Pameran Seni Myameru Ajak Pengunjung Mengenal Gunung, Mitos, dan Peradaban

Galeri NuArt Sculpture Park Bandung pada Sabtu, 13 September 2025, menjadi saksi lahirnya pameran seni Mayameru, sebuah pertemuan antara mitologi, riset lapangan, dan tafsir kontemporer.

Pameran Seni Myameru Ajak Pengunjung  Mengenal Gunung, Mitos, dan Peradaban

INILAHKORAN, Bandung - Galeri NuArt Sculpture Park Bandung pada Sabtu, 13 September 2025, menjadi saksi lahirnya pameran seni Mayameru, sebuah pertemuan antara mitologi, riset lapangan, dan tafsir kontemporer. 

Pameran Seni Mayameru ini mengajak pengunjung menelusuri jejak hubungan manusia dengan gunung, dari cerita rakyat hingga refleksi seni masa kini.

Kurator Bob Edrian menjelaskan, Mayameru berangkat dari gagasan gunung sebagai pusat kehidupan. Nama “Mayameru” sendiri berasal dari kata maya (bayangan, tak kasatmata) dan meru (gunung), metafora tentang bagaimana alam purba dan peradaban leluhur tetap bergaung dalam cara manusia modern memandang dunia.

Untuk menggali gagasan itu, enam seniman diundang dalam ekspedisi panjang menyusuri Tangkuban Parahu, Merapi, Lawu, hingga Gunung Agung di Bali. Mereka mengikuti ritual masyarakat adat, mendengar cerita mitos yang diwariskan turun-temurun, hingga mencatat detail pengalaman yang membentuk identitas budaya di lereng gunung.

“Ekspedisi ini bukan hanya perjalanan artistik, tapi juga antropologis. Ada improvisasi, ada kejutan di lapangan, dan semua itu justru memperkaya karya yang akhirnya dipamerkan,” ujar Bob.

Hasilnya, karya yang tampil bukan sekadar produk akhir, melainkan potret sebuah proses. Dari instalasi baja nirkarat karya Restu Taufik Akbar yang berkilau layaknya cermin, hingga instrumen bunyi seniman Lintang yang memadukan suara tonggeret, desir angin, dan dentum bumi—semuanya lahir dari riset yang menempatkan gunung sebagai sumber narasi.

Seniman lain, Martin Bayu Aji, menafsirkan gunung melalui simbol Buto Ijo. Bukan sebagai makhluk menakutkan, melainkan sebagai penjaga keseimbangan alam.

Topeng kayu berwarna krem dengan sorot mata tajam itu menjadi pengingat bahwa mitologi sering kali menyimpan pesan ekologis yang relevan dengan kondisi hari ini.

Mayameru sendiri diniatkan sebagai proyek berkelanjutan. Menurut Bob, edisi kali ini baru “purwarupa” yang menampilkan karya-karya berbasis riset.

Tahun depan, Mayameru akan hadir dengan cakupan lebih luas sekaligus menampilkan hasil perkembangan dari proses kreatif para seniman.

Lebih dari sekadar pameran, Mayameru menantang publik kota untuk melihat gunung tidak hanya sebagai sumber bencana. Bagi masyarakat adat, letusan memang membawa ancaman, namun juga menyuburkan tanah dan menyokong kehidupan. Dari sudut pandang itu, gunung adalah mitra, bukan musuh.


Editor : Ahmad Sayuti