Partisipasi Pemilih di Pilkada Serentak 2024 Jeblok

Partisipasi pemilih, dalam kontestasi Pilkada serentak 2024 jeblok.Target KPU Provinsi Jawa Barat untuk mendapatkan 76 persen partisipasi pemilih di Pilkada serentak, yang dihelat 27 November 2024 silam tidak tercapai.

Partisipasi Pemilih di Pilkada Serentak 2024 Jeblok

INILAHKORAN, Bandung - partisipasi pemilih, dalam kontestasi Pilkada serentak 2024 jeblok.Target KPU Provinsi Jawa Barat untuk mendapatkan 76 persen partisipasi pemilih di Pilkada serentak, yang dihelat 27 November 2024 silam tidak tercapai.

Jangankan mendekati angka 76 persen, minimal menyamai angka pada Pilkada 2018 lalu pun, yakni sekitar 74 persen juga masih jauh.

Dimana pada Pilkada serentak 2024, dari total daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 35.925.960 orang, ada 12.222.175 pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Atau hanya sekitar 65,97 persen masyarakat di Jabar, yang menggunakan hak pilihnya pada Pilkada serentak 2024 kali ini.

Ketua KPU Provinsi Jawa Barat Ahmad Nur Hidayat mengakui, terjadi penurunan signifikan pada Pilkada edisi kali ini.

Catatan ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi KPU, untuk mendongkrak partisipasi pemilih pada Pilkada selanjutnya.

"Partisipasi 65,97 persen. Ya pasti turun, itu makanya pekerjaan kami untuk menaikkan kembali. Tapi pasti di periode mendatang," ujar Ahmad setelah pleno rekapitulasi suara Pilgub Jabar di kantor KPU Jabar, Kota Bandung, baru-baru ini.

Dalam Pilkada serentak 2024, dari total 23.703.785 surat suara yang digunakan. Antaranya 22.710.733 suara sah dan 993.052 tidak sah.

"Memang untuk bicara penurunan ini, ataupun partisipasi perlu dikaji lebih ulang begitu ya. Terkait hal-hal karena kami tidak bisa langsung menyampaikan informasi-informasi terkait persentase pemilih ini. Insya Allah ini menjadi evaluasi atau hal-hal yang bisa kita tingkatkan pada prioritas pemilihan," ucapnya.

Sementara salah satu saksi dari pasangan calon, Rohman Mulyana mengkritisi rendahnya partisipasi pemilih pada Pilkada 2024.

Dia menduga, salah satu penyebab rendahnya partisipasi masyarakat untuk memilih, karena adanya pembatasan waktu pencoblosan.

"Jangan ada batasan waktu. Mungkin ini penyebab kurangnya partisipasi pemilih," tandasnya.

INILAHKORAN, Bandung - partisipasi pemilih, dalam kontestasi Pilkada serentak 2024 jeblok.Target KPU Provinsi Jawa Barat untuk mendapatkan 76 persen partisipasi pemilih di Pilkada serentak, yang dihelat 27 November 2024 silam tidak tercapai.

Jangankan mendekati angka 76 persen, minimal menyamai angka pada Pilkada 2018 lalu pun, yakni sekitar 74 persen juga masih jauh.

Dimana pada Pilkada serentak 2024, dari total daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 35.925.960 orang, ada 12.222.175 pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Atau hanya sekitar 65,97 persen masyarakat di Jabar, yang menggunakan hak pilihnya pada Pilkada serentak 2024 kali ini.

Ketua KPU Provinsi Jawa Barat Ahmad Nur Hidayat mengakui, terjadi penurunan signifikan pada Pilkada edisi kali ini.

Catatan ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi KPU, untuk mendongkrak partisipasi pemilih pada Pilkada selanjutnya.

"Partisipasi 65,97 persen. Ya pasti turun, itu makanya pekerjaan kami untuk menaikkan kembali. Tapi pasti di periode mendatang," ujar Ahmad setelah pleno rekapitulasi suara Pilgub Jabar di kantor KPU Jabar, Kota Bandung, baru-baru ini.

Dalam Pilkada serentak 2024, dari total 23.703.785 surat suara yang digunakan. Antaranya 22.710.733 suara sah dan 993.052 tidak sah.

"Memang untuk bicara penurunan ini, ataupun partisipasi perlu dikaji lebih ulang begitu ya. Terkait hal-hal karena kami tidak bisa langsung menyampaikan informasi-informasi terkait persentase pemilih ini. Insya Allah ini menjadi evaluasi atau hal-hal yang bisa kita tingkatkan pada prioritas pemilihan," ucapnya.

Sementara salah satu saksi dari pasangan calon, Rohman Mulyana mengkritisi rendahnya partisipasi pemilih pada Pilkada 2024.

Dia menduga, salah satu penyebab rendahnya partisipasi masyarakat untuk memilih, karena adanya pembatasan waktu pencoblosan.

"Jangan ada batasan waktu. Mungkin ini penyebab kurangnya partisipasi pemilih," tandasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti