Pasar Palimanan Kian Sepi Ditinggal Pedagang: Ironi Revitalisasi

REVITALISASI Pasar Palimanan, Kabupaten Cirebon malam memunculkan sebuah ironi. Ratusa pedagang malah hengkang.

Pasar Palimanan Kian Sepi Ditinggal Pedagang: Ironi Revitalisasi
SEPI: Suasana Pasar Palimanan yang tampak lengang. Usai direvitalisasi, aktivitas jual beli menurun, ratusan pedagang berhenti berjualan, dan puluhan toko emas memilih pindah ke luar area pasar. Pedagang yang sempat ditempatkan di lantai dua akhirnya memilih kembali ke lantai dasar karena minimnya pembeli yang naik ke bagian atas.

Oleh: Maman Suharman

Kondisi Pasar Palimanan kini jauh berbeda dibandingkan sebelum direvitalisasi. Meski memiliki bangunan yang lebih megah dan tertata, aktivitas jual beli di pasar tersebut justru mengalami penurunan signifikan.

Ratusan pedagang memilih berhenti berjualan, sementara puluhan toko emas hengkang ke luar area pasar.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon, Suhartono mengakui revitalisasi pasar dengan konsep dua lantai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi menurunnya aktivitas perdagangan.

"Salah satu pemicunya memang faktor fisik bangunan pasar yang berubah menjadi dua lantai," kata Suhartono, Kamis (30/7).

Menurut Suhartono, perubahan desain bangunan tersebut sebenarnya telah melalui kajian karena keterbatasan lahan dan banyaknya jumlah pedagang.

Namun dalam praktiknya, konsep tersebut dinilai kurang sesuai dengan karakter pasar tradisional.

Pedagang yang sempat ditempatkan di lantai dua akhirnya memilih kembali ke lantai dasar karena minimnya pembeli yang naik ke bagian atas.

Data Disdagin mencatat, dari total 527 pedagang yang memiliki kios, los, maupun lapak, kini hanya 302 pedagang yang masih aktif berjualan. Sebanyak 225 pedagang lainnya memilih menutup usahanya.

"Jumlah pedagang Pasar Palimanan yang terdiri dari kios, los maupun lemprakan itu ada 527. Dari jumlah tersebut, 225 pedagang tutup," ujarnya.

Untuk menghidupkan kembali aktivitas pasar, Disdagin telah melakukan sejumlah langkah. Salah satunya bekerja sama dengan Bulog dengan membuka Kios Pengendali Inflasi di Pasar Palimanan.

"Kami tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan agar pasar ini kembali dimanfaatkan secara optimal dan mampu menarik minat pedagang maupun pembeli," katanya.

Selain itu, pihaknya juga sedang mengkaji berbagai bentuk relaksasi bagi pedagang agar kembali menempati kios yang tersedia.

Saat ini, pedagang kios di Pasar Palimanan dikenakan retribusi Rp5.500 per hari, ditambah iuran kebersihan Rp2.000 per hari.

Pihaknya mendata, lesunya aktivitas perdagangan turut berdampak terhadap pendapatan daerah. Hingga Juli 2026, realisasi retribusi Pasar Palimanan baru mencapai Rp237 juta atau 45,57 persen dari target tahun 2026 sebesar Rp432 juta.

"Kami sedang mengkaji relaksasi bagi pedagang agar kembali menempati kios, karena sepinya pasar turut menekan realisasi retribusi," jelas Suhartono.

Sementara itu, Kabid Sarana dan Pelaku Distribusi Disdagin Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono, mengungkapkan, ada 35 toko emas yang selama ini menjadi ikon Pasar Palimanan juga telah pindah ke ruko di seberang pasar.

"Padahal, beban retribusi di dalam pasar relatif lebih murah. Namun, lesunya kunjungan pembeli menjadi alasan utama pedagang memilih keluar," pungkasnya. (bsf)


Editor : Inilahkoran