Pemerintah Buka Donasi Bencana NTT di Acara Publik, Netizen: Pajak Buat Apa?

Aksi penggalangan donasi publik untuk bencana gempa NTT menuai kontroversi netizen. Warganet soroti penggunaan pajak dan anggaran dana bencana pemerintah.

Pemerintah Buka Donasi Bencana NTT di Acara Publik, Netizen: Pajak Buat Apa?
Pemerintah Buka Donasi Bencana NTT di Acara Publik, Netizen: Pajak Buat Apa?

INILAHKORAN.ID - Unggahan mengenai munculnya kode QR donasi bertajuk "Dana Kemanusiaan untuk bencana Wilayah Indonesia" dalam sebuah acara panggung hiburan publik memicu gelombang kritik dari warganet.

​Polemik ini mengemuka setelah akun media sosial membagikan tangkapan layar panggung acara yang menampilkan QR Code donasi melalui platform crowdfunding (memberimakna.id) milik LAZNAS YBM BRILiAn, dengan salah satu kampanye aktifnya yakni "Tanggap bencana Gempa NTT".

​Sorotan Netizen Soal Efisiensi Anggaran dan Pajak

​Munculnya imbauan donasi masyarakat tersebut langsung disambut kritik tajam. 

Sejumlah warganet mempertanyakan peran dan kehadiran anggaran negara dalam menangani bencana nasional.

​Sejumlah pengunggah tanggapan menilai masyarakat sudah dibebani pajak yang terus dikejar, namun saat terjadi bencana, publik tetap diminta urunan.

"Buat hari-hari udah ngos-ngosan belum lagi pajak diincer terus masih disuruh donasi. Lah trus pajaknya buat apa?" tulis salah satu akun media sosial.

​Netizen menyayangkan adanya wacana pemotongan atau efisiensi dana bencana, padahal Indonesia berada di wilayah rawan bencana yang membutuhkan respons cepat dan birokrasi yang ringkas tanpa bergantung penuh pada donasi warga.

Beberapa tanggapan menyarankan agar masyarakat yang ingin berdonasi lebih cermat memilih lembaga penyalur bantuan swasta atau non-pemerintah yang dinilai lebih akuntabel dan transparan.

Meski pemerintah mengklaim ketersediaan dana darurat mencukupi,  penggalangan donasi di ruang publik tetap memicu perdebatan mengenai batas keterlibatan masyarakat dan kewajiban negara dalam penanggulangan bencana.


Editor : Firda Rachmawati