Pemerintah Genjot Ekosistem Kendaraan Listrik
Hilirisasi industri menjadi fokus pembangunan. Pemerintah mengundang investor Eropa untuk membangun industri baterai kendaraan listrik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Hilirisasi industri menjadi fokus pembangunan saat ini. Untuk itu, pemerintah mengundang investor Eropa untuk menanamkan modal di Indonesia dan membangun industri baterai kendaraan listrik.
Bahlil Lahadalia turun langsung. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengaku, undangan kepada para investor dari Eropa itu untuk membangun bersama ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air. Khususnya, mengambil bagian dalam industri baterai kendaraan listrik.
Menurutnya, Indonesia sejauh ini mengantongi investasi senilai US$9,8 miliar atau setara Rp142 triliun untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari Korea Selatan. Pekan lalu, tahap pertama investasi asal Negeri Ginseng itu mulai terealisasi dengan dibangunnya pabrik battery cell senilai US$1,1 miliar di Karawang, Jawa Barat.
Baca Juga: Regulasi Baru Pajak Kendaraan Listrik dan Hybrid
Tak hanya Korea Selatan, pada akhir tahun ini akan pula dibangun pabrik baterai kendaraan listrik CATL, produsen baterai kendaraan listrik asal Cina. Bahlil pun mengundang investor Eropa untuk ikut masuk berinvestasi dalam ekosistem industri tersebut lantaran bahan baku baterai kendaraan listrik mayoritas bisa didapatkan di Tanah Air.
“Kenapa ini saya tawarkan ke Eropa? Komponen bahan baku baterai mobil itu empat yaitu nikel, mangan, kobalt, dan litium. Di Indonesia, kami mempunyai tiga jenis bahan baku yaitu nikel, mangan, dan kobalt sementara litiumnya kita ambil dari luar,” katanya dikutip Antara, Selasa 21 September 2021.
Bahlil menyebutkan, sekitar 24-26% cadangan nikel dunia terdapat di Indonesia. Fakta tersebut tentu sangat menguntungkan bagi Indonesia karena jaminan pasokan bahan baku.
“Maka izinkan kami untuk memberikan waktu kepada Indonesia untuk membangun hilirisasi. Kita ingin memberikan kontribusi kepada dunia dengan produk-produk yang berkualitas dan teknologi tinggi,” ujarnya.
Baca Juga: Menyambut Transisi Menuju Kendaraan Listrik
Untuk itu, dia mempersilakan para investor untuk masuk ke Indonesia dengan membawa modal, teknologi, dan pasar. Pemerintah akan mengurus perizinan, insentif, bahkan soal lahannya. Dia pun mengingatkan agar investasi juga harus melibatkan BUMN, pengusaha nasional, serta UMKM.
“Tambangnya bisa kita atur. Yang penting adalah ada komunikasi yang baik dengan pemerintah. Kami yakinkan bahwa kolaborasi harus dibangun baik antara investor, BUMN maupun dengan pengusaha-pengusaha nasional dan UMKM,” tambahnya.
Dia menegaskan, undangan investor Eropa itu tidak hanya investasi di industri baterai kendaraan listrik. Namun, mereka pun dipersilakan berinvestasi di bidang usaha lainnya. Indonesia kaya akan sumber daya alam seperti batu bara dan kelapa sawit. Bahlil juga menegaskan pemerintah terus melakukan penataan untuk bisa menjaga keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga: SBM ITB Dorong Pemerintah Sediakan Fasilitas Industri Kendaraan Listrik
Sementara itu, peneliti Center For Public Policy and Public Management Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Agung Wicaksono menuturkan pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik itu akan mendorong permintaan kendaraan listrik.
“Untuk memajukan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur hilir di Indonesia diperlukan, salah satunya pabrik baterai kendaraan listrik. Infrastruktur yang memadai akan mendukung terciptanya permintaan kendaraan listrik di dalam negeri,” ucap Agung.
Selain infrastruktur, dia menekankan pentingnya edukasi atau informasi kepada masyarakat terkait dengan keunggulan dari penggunaan kendaraan berbasis listrik ini dibandingkan kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil.
Baca Juga: DEN: Kendaraan Listrik Bisa Tekan Defisit Transaksi Berjalan RI
Agung menambahkan, Center of Policy and Public Management SBM ITB juga memberikan beberapa saran kepada pemerintah terkait pengembangan mobil listrik di Indonesia. Di antaranya membuat regulasi dan kebijakan terkait percepatan pengembangan mobil listrik dan bahan bakar, memberikan insentif serta fasilitas penelitian dan pengambangan mobil listrik.
Selain itu, pemerintah juga perlu untuk berkoordinasi serta kolaborasi dengan beberapa kementerian dan lembaga pemerintahan untuk mendukung program ini. Saran tersebut berdasarkan atas policy brief yang diterbitkan CPPM SBM ITB bertajuk Strategi Korporasi untuk Mengoptimalkan Pengembangan Kendaraan Listrik Baterai di Indonesia. (antara)
Editor : inilahkoran

