AKADEMISI dari Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Nusa Tenggara Timur, Pater Gregorius Neneonbasu SVD mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) tidak mempersulit mahasiswa untuk ikut serta dalam Pemilu 2019.
"Aturan pesta-pesta demokrasi sebelumnya, yang ternyata mempersulit keikut-sertaan mahasiswa, semisal e-KTP (KTP elektronik) membuat mahasiswa kita lebih memilih untuk golput dalam setiap pesta demokrasi di Indonesia," katanya di Kupang, Jumat.
Hal ini disampaikanya berkaitan dengan maraknya pernyataan dari sejumlah pengamat bahwa fenomena minimnya keikutsertaan mahasiswa dalam berbagai Pilkada dan Pemilu khususnya di NTT.
Menurut dia jika penyebab mahasiswa memilih golput karena e-KTP, maka pemerintah harus mengeluarkan aturan agar tidak perlu hanya mengandalkan e-KTP sebagai syarat mengikuti pesta demokrasi.
Artinya bahwa jika ada mahasiswa yang tidak memiliki e-KTP, maka bisa diberikan kemudahan seperti ada tanda-tanda pengenal lainnya.
"Atau cukup saja keterangan dari dosen (sesepuh kampus), RT/RW dan kepala keluarga masing-masing mahasiswa," ujar Pater.
Dia menilai bahwa persoalan terlampau sederhana jika mahasiswa golput hanya karena mereka tidak memiliki e-KTP.
Lebih lanjut Pater Gregorius yang juga adalah Dosen Antropologi di Unwira itu menambahkan dari beberapa pesta demokarsi sebelumnya selalu ada alasan masuk akal sampai ada dan banyak mahasiswa memilih golput.
Pertama, banyak mahasiswa yang sudah bersikap kritis ketika menilai beberapa peserta pesta demokrasi yang citra kampanyenya ilogik dan sudah tidak logis, sehingga mereka berpendapat, dari pada ikut pesta demokrasi dan menyesatkan, lebih baik memilih golput saja.
"Kedua hemat saya penyebab utama banyak mahasiswa yang golput bukan karena faktor tidak memiliki e-KTP tapi karena sikap kritis anak-anak muda di lembaga pendidikan tinggi," ujar dia. Ia menceritakan beberapa pengalaman yang ia hadapi saat berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswa.
"Ada beberapa pengalaman yang saya temui, mahasiwa kita nampaknya mereka sepertinya tidak memiliki semangat untuk mengikuti pesta demokrasi," katanya.
Salah satu alasan sederhananya adalah dari beberapa di antara mereka, mulai dari alasan partai terlalu banyak, dan orang yang menjadi calon Leglislatif juga banyak.
Belum lagi kata-kata politisi saat kampanye ujarnya yang tidak prospektif sehingga kurang menggigit atau yang bersifat mengundang orang berpartisipasi dalam pesta demokrasi.