Pemerintahan Desa Cilame Gaungkan Program Terapi dan Psikologi kepada Puluhan Kaum Disabilitas 

Keberadaan kaum disabilitas kerap dipandang sebelah mata sebagian masyarakat. Padahal, pemerintahan Desa Cilame menilai mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesejahteraan dan kesetaraan.

Pemerintahan Desa Cilame Gaungkan Program Terapi dan Psikologi kepada Puluhan Kaum Disabilitas 
Pemerintahan Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berupaya memberikan perhatian bagi kaum disabilitas yang ada di wilayahnya dengan memberikan terapi dan pemeriksaan psikologi di Aula Kantor Desa Cilame. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Keberadaan kaum disabilitas kerap dipandang sebelah mata sebagian masyarakat. Padahal, pemerintahan Desa Cilame menilai mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesejahteraan dan kesetaraan.

Pemerintahan Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berupaya memberikan perhatian bagi kaum disabilitas yang ada di wilayahnya dengan memberikan terapi dan pemeriksaan psikologi di Aula Kantor Desa Cilame.

Kegiatan yang diinisiasi pemerintahan Desa Cilame dan kader Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) memberikan pelayanan kesehatan tersebut kepada 20 kaum disabilitas di wilayahnya.

"Kegiatan terapi bagi penyandang disabilitas anak-anak di Cilame sudah berlangsung sejak 2016," kata Ketua RBM Desa Cilame, Cucu Yanti kepada wartawan, Rabu 24 Mei 2023.

Cucu mengakui, pada awal program ini digulirkan, pelaksanaannya dilaksanakan setahun tiga kali.

"Sasarannya 35 penyandang disabilitas yang ada di Cilame. Pada awal program ini dilaksanakan memang menghadapi sejumlah kendala antara lain masih adanya orang tua yang merasa malu atau minder anaknya ikut program ini," jelas Cucu.

"Tapi lambat-laun, setelah kita berikan pemahaman mereka mengerti bahwa ini demi kebaikan sang anak," ungkapnya.

Cucu menyebut, pada tahun 2017 program terapi bagi kaum disabilitas ini frekuensinya mulai ditambah dari tiga kali setahun menjadi setiap bulan. Bahkan 2020 menjadi dua kali dalam sebulan.

"Namun tahun 2020 terjadi pandemi Covid-19. Program ini sempat mengalami kevakuman selama lima bulan. Dilaksanakan kembali dengan protokol kesehatan yang ketat," terangnya.

Kemudian, lanjut Cucu, memasuki tahun ketujuh atau 2023 program ini tinggal diikuti 20 peserta dengan usia termuda tahun dan tertua 20 tahun. 

"Ada peserta yang dari awal masih berusia anak-anak, sekarang telah beranjak dewasa," ujarnya.

"Karena dia ingin tetap ikut meski sudah dewasa, tentunya ini menjadi perhatian kami. Mereka harus tetap berdaya dengan kemampuan yang mereka miliki," sambungnya.

Cucu menambahkan, pihaknya dalam kegiatan ini melibatkan pula psikolog agar mereka tahu cara menghadapi anak-anaknya yang berkebutuhan khusus.

Sementara itu, Kepala Desa Cilame Aas Mochammad Asor mengatakan, penyandang disabilitas menjadi kelompok masyarakat yang rentan termaginalkan. 

"Para penyandang disabilitas juga diharapkan akan lebih berdaya. Mudah-mudahan mereka tak terlalu atau sama sekali tak bergantung pada orang lain," katanya.

Ia menyebut, program terapi dan psikologi bagi penyandang disabilitas dibiayai dari Dana Desa dan diharapkan menjadi program berkelanjutan sebagai bagian pemberdayaan masyarakat.

"Program untuk penyandang disabilitas ini merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat, peningkatan sumberdaya manusia, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani