Pemkot Cirebon Upayakan Solusi Jangka Panjang Atasi Luapan Sungai Kalijaga

Pemkot Cirebon akan melakukan program jangka panjang agar untuk menormalisasi Sungai Kalijaga yang menyebabkan banjir di Kota Cirebon dan merendam ratusan rumah

Pemkot Cirebon Upayakan Solusi Jangka Panjang Atasi Luapan Sungai Kalijaga
Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati meninjau langsung kondisi Darul Ulum yang sempat terendam bajir. (Maman Suharman/Inilahkoran

INILAHKORAN.ID – Di tengah sisa lumpur dan genangan pasca hujan deras yang menyebabkan banjir di Kalijaga, Pemerintah Kota Cirebon memastikan kehadirannya bukan sekadar sebagai peninjau, melainkan sebagai bentuk empati dan tanggung jawab langsung terhadap warga.

Wakil Wali Kota (Wawalkot) Cirebon, Siti Farida Rosmawati, turun langsung ke titik-titik terdampak banjir untuk merangkul warga yang tengah berupaya bangkit Kembali. Kehadiran pemerintah di lapangan merupakan prioritas utama untuk memastikan tidak ada masyarakat yang merasa berjuang sendirian dalam menghadapi musibah ini.

Didampingi Lurah Kalijaga, Wawalkot menyisir pemukiman warga dan fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan cukup signifikan. Salah satu titik yang menjadi perhatian utama adalah MI Darul Ulum, yang lokasinya bersebelahan dengan aliran sungai.

Di tempat ini, Siti Farida melihat secara dekat kondisi ruang kelas yang tertutup lumpur dan berdialog dengan tenaga pendidik. Ini untuk memastikan bantuan evakuasi serta pembersihan berjalan maksimal. 

Tujuannya supaya aktivitas belajar tidak terhenti terlalu lama. Meski infrastruktur terdampak, ia menyatakan rasa syukurnya karena keselamatan warga tetap terjaga tanpa adanya korban jiwa.

"Kami melihat MI Darul Ulum ini dampaknya cukup berat karena lokasinya sangat dekat dengan sungai. Semalam debit air sangat besar dan pembukaan pintu air memerlukan waktu karena tekanan yang berat, sehingga air meluap ke daerah yang lebih rendah," ungkapnya, Rabu 7 Januari 2026.

Dia menjelaskan, persoalan banjir di wilayah Kalijaga ini dipicu oleh faktor eksternal berupa material kayu besar yang hanyut dari hulu dan menjebol tanggul. Hantaman material tersebut, mengakibatkan air masuk ke pemukiman dengan arus yang sangat deras.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) dan perangkat daerah terkait lainnya telah dikerahkan untuk membantu warga melakukan penyemprotan lumpur pekat yang mengendap.

"Saat ini kami bersama BBWS terus mengupayakan normalisasi sungai serta pembangunan benteng atau tanggul yang lebih tinggi. Selain itu, pembangunan bendungan juga sedang dalam tahap kajian teknis agar luapan air sungai tidak langsung masuk ke pemukiman penduduk," jelasnya.

Dia mengaku, Pemerintah Kota Cirebon berkomitmen akan terus mendampingi warga hingga masa pemulihan pascabencana selesai. Melalui sinergi antara perbaikan drainase, normalisasi sungai, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan, Pemerintah optimis risiko bencana di masa depan dapat ditekan seminimal mungkin demi kenyamanan dan keamanan seluruh warga Kota Cirebon.

Disisi lain, Kepala MI Darul Ulum Kota Cirebon,  Makin Amin, mengungkapkan, musibah ini terjadi tepat saat hari pertama masuk sekolah di semester baru. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa dihentikan sementara karena seluruh ruangan terendam lumpur dengan ketinggian mencapai 20 cm.

"Hari Senin adalah hari pertama kami masuk sekolah, namun langsung dilanda banjir. Akhirnya, anak-anak ikut berpartisipasi membantu membersihkan lumpur karena di dalam kelas basah semua dan lumpurnya tebal sekali," tukasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti