Pemprov Jabar Libatkan ITB, Cari Solusi Tekan Angka Kecelakaan
Insiden kecelakaan yang terjadi di Pintu Tol Ciawi, Bogor yang menewaskan delapan orang membuat Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin gerah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Insiden kecelakaan yang terjadi di Pintu Tol Ciawi, Bogor yang menewaskan delapan orang membuat Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin gerah.
Sebab, kecelakaan yang diduga akibat kelalaian sudah sering terjadi di Jabar, dimana berbuntut banyak kehilangan nyawa.
Sebab itu, kata Bey, Jumat 7 Februari 2025 Pemprov Jabar bersama Dinas Perhubungan dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar rapat terbatas (Ratas), mencari solusi untuk meminimalisir angka kecelakaan di Jabar.
Sementara, lanjut Bey, sudah ada beberapa masukan. Salah satunya usulan dengan dibuatkannya sertifikasi khusus untuk supir.
Hanya saja hal ini diakuinya belum final dan akan kembali dibahas lebih intens, yang mana diagendakan pada pekan depan.
"Ada usulan mensertifikasikan supir truk, tapi bagaimana pengawasannya kalau sertifikasi itu. Jadi yang pasti forum ini akan rapat lagi minggu depan dengan detail yang lebih teknis untuk pelaksanaan di lapangan," ujar Bey di Gedung Pakuan, Kota Bandung baru-baru ini.
Sebab untuk implementasinya, supir kendaraan khususnya kendaraan berat harus tergabung dalam satu asosiasi. Namun sejauh ini kata dia, baru 50 persen yang bergabung sehingga kesulitan dalam mengontrolnya.
Selain itu, kesadaran dan kepedulian penuh dari supir juga harus menjadi poin utama dalam mitigasi kecelakaan. Sebab, rerata berdasarkan laporan, kecelakaan terjadi karena adanya supir yang memaksakan diri menjalankan kendarannya.
"Semestinya kan mereka harus jujur. Pertama jujur capek atau tidak dan kondisi truk. Tidak jarang juga informasi di lapangan itu, seringkali supir truk berganti di tengah jalan dan penggantinya kemampuannya tidak sama dengan supir," ucapnya.
"Jadi kami masih terima masukan dulu, bagaimana yang penting kami tidak ingin ada lagi kecelakaan seperti itu (akibat kelalaian)," imbuhnya.
Padahal bila kesadaran dan kepedulian tertanam dalam diri supir, kecelakaan fatal dapat dicegah dan tidak merugikan banyak pihak.
"Sebetulnya bisa dicegah, seperti rem blong sebetulnya bisa ketahuan. Atau supir mengantuk kan bisa dihindari. Itu kan sebetulnya harus ada pengertian semua pihak. Kejar setoran jangan jadikan alasan," kata dia.
Dia berharap, dalam ratas lanjutan didapati hasil baik dalam menekan kecelakaan kendaraan di Jawa Barat. Khususnya yang disebabkan oleh kendaraan berat atau besar.
"Itu yang belum mengerucut, minggu depan kami rapat dan akan lebih mengerucut lagi," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

