Pencemaran DAS Cimanuk Kian Parah, Pencari Ikan Menjerit

Sejumlah warga komunitas pencari ikan mengeluhkan kondisi daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk Garut yang kian memprihatinkan. Selain bantaran sungai banyak kerusakan, mutu air sungainya juga terus mengalami degradasi akibat sedimentasi, serta pencemaran sampah, dan limbah biologis maupun kimiawi.

Pencemaran DAS Cimanuk Kian Parah, Pencari Ikan Menjerit
(Foto: Zainulmukhtar)

INILAH, Garut- Sejumlah warga komunitas pencari ikan mengeluhkan kondisi daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk Garut yang kian memprihatinkan. Selain bantaran sungai banyak kerusakan, mutu air sungainya juga terus mengalami degradasi akibat sedimentasi, serta pencemaran sampah, dan limbah biologis maupun kimiawi.

Meskipun pencemarannya belum seperti sungai Cikapundung, Citarum, atau Ciliwung, dan sungai-sungai lainnya di kota-kota besar kawasan industri, pencemaran sungai Cimanuk  terlihat semakin parah. Terutama  mulai jembatan Maktal hingga sekitar Bendung Copong. Apalagi di musim kemarau dengan debit air surut membuat pencemaran menjadi pekat. Selain keruh kehitam-hitaman, dan menimbulkan berbau tak sedap, di banyak titik terdapat tumpukan berbagai jenis sampah.

“Lihat saja di Bendungan Copong ini ! Tumpukan sampah seperti tak pernah habis. Padahal anak-anak (komunitas pencari ikan) sering cari ikan di sini sambil membersihkan sampah, dan menarik bongkahan kayu bakar  yang ada di tengah sungai ke darat. Tapi sepertinya kesadaran masyarakat bahkan pemerintah akan pentingnya menjaga lingkungan sungai ini sangat kurang,” kata Suryaman (25) pemancing ikan asal Kampung Cicurug Desa Suci Kecamatan Karangpawitan, Kamis (17/10/2019).

Menurut Suryaman, selain berbagai jenis sampah, limbah rumah tangga, limbah pertanian, dan limbah industri yang tak jua terkendalikan,  terutama penyamakan kulit Sukaregang membuat kondisi air sungai Cimanuk tercemar parah. Limbah industri garmen, dan limbah bulu unggas juga masih kerap didapati.

“Selain perlu adanya penyadaran masyarakat, Pemerintah juga mestinya memperhatikan masalah ini dengan serius, dan berani menindak pihak-pihak yang menyebabkan terjadinya pencemaran sungai. Bagaimana pun, pencemaran ini mengakibatkan terganggunya ekosistem yang ada. Masyarakat di arah hilir juga banyak yang memanfaatkan air sungai ini untuk berbagai keperluan sehari-hari, selain untuk pertanian, dan perikanan,” kata Suryaman.

Dia menyebutkan, bersama komunitas pencari ikan sungai lainnya semisal dari Jayaraga, dan Leuwidaun,  dirinya sering kali turut menebar benih ikan terutama jenis nila, dan lele di DAS Cimanuk. Benih ikan ditebar mulai di arah hilir sungai Cimanuk di daerah Bayongbong.

Dia pun berharap pengelola Bendung Copong lebih dapat memperhatikan cara penanganan sampah yang bertumpuk di bendungan agar tidak diloloskan hanyut ke arah hilir sungai. Pun ada pembatasan mengenai titik lokasi diperbolehkan menambang pasir, dan titik mana yang terlarang sama sekali bagi warga yang biasa mencari nafkah dari menambang pasir sungai.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Garut pada 2015 mencatat, pencemaran yang membebani mutu air sungai Cimanuk saat ini didominasi limbah biologis domestik rumah tangga mencapai 60 % dari total pencemaran biologis maupun kimiawi yang ada. Hal itu antara lain karena masih banyak rumah tangga, terutama di sepanjang bantaran sungai, belum memiliki septic tank.  Sisanya pencemaran akibat limbah pertanian, dan industry.

Hal itu diketahui berdasarkan hasil pengukuran dilakukan terhadap aliran sungai Cimanuk di tiga titik, mulai arah hulu di kawasan Kecamatan Bayongbong, tengah di kawasan Copong Kecamatan Garut Kota, dan hilir di kawasan Sasak Beusi Kecamatan Cibatu.

Pencemaran biologis sendiri merupakan pencemaran disebabkan berbagai macam mikroorganisme penyebab penyakit, seperti Escherichia coli, Entamoeba coli, dan Salmonella thyposa. Sedangkan pencemaran kimiawi merupakan pencemaran disebabkan bahan/zat kimia, baik dari limbah rumah tangga, industry, maupun pertanian.

Khusus industri penyamakan kulit Sukaregang, ketika itu limbah cairnya dihasilkan tercatat mencapai 900 meter kubik per hari.(zainulmukhtar)

 


Editor : Bsafaat