Pendapatan Parkir Disorot, Dedi Mulyadi Kritik Kondisi Masjid Atta'Awun Puncak Bogor
Dedi melihat kondisi lingkungan Masjid Atta'Awun yang dinilai tidak terawat, meski setiap hari terdapat pungutan parkir dari para pengunjung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti pengelolaan pendapatan parkir di Masjid Atta'Awun, kawasan Puncak, Bogor, saat melakukan kunjungan langsung ke lokasi.
Sorotan tersebut muncul setelah Dedi melihat kondisi lingkungan masjid yang dinilai tidak terawat, meski setiap hari terdapat pungutan parkir dari para pengunjung.
Masjid Atta'Awun selama ini dikenal sebagai tempat singgah sekaligus lokasi ibadah bagi masyarakat dan pengguna jalur Puncak. Namun, Dedi mengaku prihatin melihat kondisi fisik masjid, terutama di bagian luar dan area parkir.
“Uang ditarik tiap hari, tapi tempatnya tidak diurus,” ujar Dedi saat berdialog dengan pengelola di lokasi.
Dalam kunjungannya, Dedi menanyakan besaran pendapatan parkir yang diperoleh setiap hari. Petugas parkir menyebutkan bahwa pada hari biasa pendapatan bisa mencapai sekitar Rp900 ribu per hari, sementara pada akhir pekan atau hari libur jumlahnya bisa lebih besar.
Dedi pun mempertanyakan kejelasan pengelolaan dana tersebut, mengingat fasilitas parkir dan lingkungan sekitar masjid tampak tidak terawat.
“Dananya masuk ke mana? Parkirnya dipungut, tapi tempat parkirnya sendiri tidak dibenahi,” kata Dedi.
Pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) menjelaskan bahwa pengelolaan parkir diserahkan kepada pihak ketiga. Penjelasan itu kembali menuai kritik dari Dedi, terutama terkait tanggung jawab perawatan dan kesejahteraan petugas kebersihan.
“Kalau dikelola pihak ketiga, berarti ada pembayaran. Tenaga kebersihannya digaji atau tidak? Ini justru memalukan,” ujarnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah fasilitas Masjid Atta'Awun dalam kondisi kurang layak. Atap luar masjid terlihat rusak, tanaman di sekitar area dibiarkan tumbuh tidak terawat, serta minimnya fasilitas dasar seperti tempat sampah.
Dedi Mulyadi menegaskan, sebagai fasilitas ibadah dan ruang publik yang ramai dikunjungi, Masjid Atta'Awun seharusnya dikelola secara transparan dan profesional.
Di akhir kunjungan, Dedi meminta pengelola segera melakukan pembenahan, baik dari sisi tata kelola parkir maupun perawatan lingkungan masjid, agar keberadaan Masjid Atta'Awun benar-benar mencerminkan kenyamanan dan ketertiban bagi masyarakat.
Editor : Firda Rachmawati


