Pengamat Ekonomi Unpad Ingatkan Pemimpin Baru Jawa Barat untuk Kejar Target Ekonomi 8 Persen

Pemimpin baru Jawa Barat hasil Pilkada 2024 diharapkan segera bekerja mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% dalam lima tahun mendatang. Tantangan meliputi kondisi geopolitik global, rendahnya pertumbuhan ekonomi lokal, serta isu kenaikan PPN dan UMR. Solusi seperti optimalisasi infrastruktur dan pengembangan energi hijau menjadi kunci utama untuk menarik investasi dan meningkatkan daya saing.

Pengamat Ekonomi Unpad Ingatkan Pemimpin Baru Jawa Barat untuk Kejar Target Ekonomi 8 Persen
Pengamat Ekonomi Universitas Padjadjaran Ferry Hadiyanto seusai kegiatan diskusi bertajukMenyongsong Era Baru: Menyusun Solusi untuk Masa Depan Bisnis dan Ekonomi Jawa Barat di Bandung, Jumat 8 Desember 2024

INILAHKORAN,Bandung- Pengamat Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad) Ferry Hadiyanto mengingatkan Pemimpin baru Jawa Barat (Jabar) hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 diharapkan segera bertindak cepat untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam lima tahun ke depan, seperti yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.

Ferry Hadiyanto menyebutkan, kepala daerah yang terpilih, baik petahana maupun baru, perlu fokus pada upaya mencapai target ambisius ini. 

"Jika petahana menang, mungkin bisa langsung bekerja menjemput target pemerintah. Namun, jika pemimpin baru, diperlukan waktu untuk konsolidasi. Jawa Barat diharapkan langsung gas untuk merealisasikan target pusat," ungkap Ferry dalam diskusi bertajuk Menyongsong Era Baru: Menyusun Solusi untuk Masa Depan Bisnis dan Ekonomi Jawa Barat di Bandung, Jumat 8 Desember 2024.

Menurut Ferry, target ini sulit dicapai mengingat rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional selama satu dekade terakhir hanya mencapai 5%, bahkan sempat melambat karena pandemi COVID-19. Tantangan bertambah dengan kondisi geopolitik global, seperti perang di Timur Tengah dan Eropa Timur, yang memengaruhi konstelasi ekonomi dunia.

"Ekspor tekstil Jawa Barat masih sangat bergantung pada ekonomi Amerika. Namun, kebijakan Presiden AS terpilih, Donald Trump, untuk menarik potensi ekonomi ke dalam negeri akan menjadi tantangan besar. Tanpa investasi asing, target pertumbuhan ekonomi 8% akan sulit dicapai,” tambahnya.

Di tingkat lokal, Ferry mengingatkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dalam dua tahun terakhir berada di bawah rata-rata nasional. Penutupan dan relokasi sejumlah pabrik tekstil menjadi salah satu penyebabnya. “Harus ada solusi untuk menggantikan sektor yang terdampak agar ekonomi Jabar tetap tumbuh positif,” ujarnya.

Di tempat yang sama, anggota Komisi II DPRD Jawa Barat, Sri Dewi menambahkan, tantangan ekonomi lainnya meliputi rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% dan Upah Minimum Regional (UMR) sebesar 6,5%. Hal ini, menurutnya, dapat membebani dunia usaha dan menyebabkan migrasi industri ke daerah lain.

"Kami akan beraudiensi dengan pengusaha untuk mencari solusi agar industri tetap bertahan di Jawa Barat. Infrastruktur seperti Kawasan Rebana, Bandara Kertajati, dan Pelabuhan Patimban perlu dioptimalkan," jelas Dewi.

Sementara itu, GM Pemasaran dan Pengembangan Bisnis PT SEI, Kurniawan Imam Ghozali menyebutkan, energi hijau dinilai sebagai peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 
Kurniawan Imam Ghozali mengungkapkan, penggunaan energi hijau dapat mengurangi biaya operasional hingga 40%. "Pemasangan panel surya dan penggunaan mobil listrik dapat membantu industri, seperti tekstil, untuk lebih kompetitif," ujarnya.***


Editor : Ghiok Riswoto