Penyebab Banjir Bandang Nepal Terungkap Lewat Satelit, Runtuhnya Es Raksasa
Berikut ini penyebab banjir bandang Nepal yang terjadi pada Rabu 26 Agustus 2026, salah satunya karena gletser raksasa runtuh.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Bencana banjir bandang dahsyat menerjang wilayah Nepal pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Peristiwa tragis ini memicu gelombang bah raksasa yang merusak infrastruktur serta kawasan permukiman di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengarah ke barat daya.
Berdasarkan analisis meteorologi dan kebencanaan dari Backpirch Weather serta pengamatan citra satelit oleh itstheschrodinge.
Berikut adalah kronologi dan faktor utama yang menjadi penyebab banjir bandang Nepal tersebut:
1. Runtuhnya Gletser Raksasa
Titik awal bencana dipicu oleh jatuhnya bongkahan gletser es raksasa dari Gunung Langtang Lirung.
Bongkahan es ini meluncur jatuh sedalam kurang lebih 1 hingga 1,5 km menuju lembah di sisi utara gunung.
2. Guncangan Gempa M 5,2
Benturan material gletser raksasa yang menghantam dasar lembah secara drastis memicu guncangan gempa tektonik atau seismik lokal berkekuatan magnitudo 5,2.
3. Dinding Air dan Sedimentasi
Material es, batuan, dan tanah bercampur meluncur turun menyusuri lembah, berubah menjadi banjir bandang dengan ketinggian air mencapai 70 hingga 80 meter.
4. Dampak Kerusakan
Arus banjir yang membawa sedimentasi berat ini menghantam pos perbatasan Nepal-China di Rasuwa sebelum merusakkan pemukiman warga di sepanjang jalur aliran sungai.
Hingga Kamis 27 Agustus 2026, Distrik Chitwan di Provinsi Bagmati mencatat jumlah korban tertinggi dengan 64 orang meninggal dunia, disusul distrik Dhading yang bersebelahan, dengan 27 korban dan Nawalparasi Timur dengan 22 korban.
Wisatawan yang masih hilang mencakup lebih dari 100 warga India, 54 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, dan 33 warga Inggris. Sementara itu, Kepolisian Nepal menyatakan 28 personelnya masih hilang.
Menurut laporan awal, banjir menghancurkan 19 jembatan dan ruas jalan utama sepanjang 40 kilometer, sehingga memutus jalur transportasi dan menyulitkan upaya penyelamatan.
Editor : Firda Rachmawati

