Pocong Warna-Warni Lembang Minta Bantuan KDM: Pekerjaan Tak Punya, Anak Istri Butuh Makan
Kemunculan orang dengan kostum pocong jadi-jadian di kawasan Lembang tengah menjadi sorotan. Selain sering dikritik karena mengganggu lalu lintas saat meminta uang di tengah jalan, kelompok ini kini mengajukan permohonan bantuan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), lantaran mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kemunculan orang dengan kostum pocong jadi-jadian di kawasan Lembang tengah menjadi sorotan. Selain sering dikritik karena mengganggu lalu lintas saat meminta uang di tengah jalan, kelompok ini kini mengajukan permohonan bantuan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), lantaran mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap.
Aksi mereka kerap terlihat di sekitar Jalan Grand Hotel Lembang, dengan ciri khas kostum pocong berwarna-warni. Tak jarang, mereka mengetuk kaca kendaraan atau bahkan mengejar mobil yang belum memberikan uang, menyebabkan arus kendaraan tersendat terutama saat volume lalu lintas tinggi, seperti pada libur panjang akhir tahun.
Menindaklanjuti keluhan warga, petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) telah melakukan penertiban dan pembinaan terhadap para pocong tersebut.
Dalam video yang viral di media sosial, salah satu pelaku mengaku mereka hanya mencari nafkah lantaran tidak punya pilihan lain selain menghibur masyarakat dengan kostum pocong.
"Kami mencari nafkah dengan menjadi pocong karena pekerjaan sudah tidak ada. Pak Dedi, tolong kebijaksanaannya. Bukan kami takut sama gubernur, tapi kami takut anak istri kami tidak makan," ucap salah satu pocong dalam rekaman tersebut.
Seorang pelaku bernama Firmansyah mengkonfirmasi bahwa beberapa rekannya pernah diamankan lantaran aktivitasnya dianggap menghambat lalu lintas.
Menurutnya, keberadaan mereka semakin diperhatikan setelah dua orang pocong mengejar kendaraan Gubernur Dedi Mulyadi saat kunjungan di alun-alun, yang kemudian diberikan uang oleh KDM sebelum mereka pergi.
Firmansyah mengaku telah menjalani aktivitas sebagai pocong jalanan selama tujuh tahun. Ia menjelaskan bahwa libur Natal dan Tahun Baru menjadi waktu yang paling menguntungkan untuk mendapatkan pendapatan dari wisatawan yang berkunjung ke Lembang.
"Kalau hari biasa pendapatan sekitar Rp100 ribu, tapi saat libur panjang bisa lebih, bahkan mencapai Rp200 ribu per hari," katanya.
Bahkan, kini ia menyediakan kode QR bagi wisatawan yang ingin memberikan sumbangan tanpa membawa uang tunai.
Menanggapi keluhan tentang oknum pocong yang memaksa meminta uang, Firmansyah menegaskan bahwa tidak semua anggota kelompok memiliki perilaku serupa.
Ia menilai, penindakan yang dilakukan Satpol PP justru bertujuan untuk membuat para pocong lebih tertib, tidak mengganggu lalu lintas, dan tidak memaksakan diri kepada pengguna jalan.
"Enggak semua seperti itu, masing-masing punya karakter. Penindakan Satpol PP ini supaya kita bisa bekerja dengan benar dan tidak mengganggu orang lain," tuturnya.***
Editor : JakaPermana


