Pokja BSAN Dikukuhkan agar Sekolah Aman dan Nyaman bagi Anak

Sekda Kota Bogor Denny Mulyadi mengukuhkan Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (Pokja BSAN) yang dirangkaikan dengan deklarasi Jaga Teman.

Pokja BSAN Dikukuhkan agar Sekolah Aman dan Nyaman bagi Anak
Sekda Kota Bogor Denny Mulyadi saat mengukuhkan Pokja BSAN yang dirangkaikan dengan deklarasi Jaga Teman tingkat Kota Bogor di SMP Negeri 1 Kota Bogor, Kamis (22/10/2026). (rizki mauludi)

INILAHKORAN.ID - Sekda Kota Bogor Denny Mulyadi mengukuhkan Kelompok Kerja Budaya sekolah Aman dan Nyaman (Pokja BSAN) yang dirangkaikan dengan deklarasi Jaga Teman tingkat Kota Bogor di SMP Negeri 1 Kota Bogor, Kamis (22/10/2026).

Denny menegaskan, dalam kegiatan Bulan Bahasa dan peluncuran gerakan Jaga Teman itu bukan sekadar tempat belajar dan menghadapi ujian, melainkan rumah kedua bagi anak-anak untuk membentuk karakter, menanamkan budi pekerti serta membangun hubungan sosial.

"Sekolah rumah kedua bagi anak-anak untuk membentuk karakter, menanamkan budi pekerti dan membangun hubungan sosial. Karena itu, mewujudkan sekolah yang inklusif, aman serta nyaman adalah tanggung jawab kita bersama. Pengukuhan Pokja BSAN di sekolah dan deklarasi Jaga Teman menjadi langkah penting bagi masa depan anak-anak kita," tegas Denny. 

Denny menjelaskan, langkah tersebut harus menjadi penggerak di tingkat akar rumput dan tidak berhenti sebagai slogan semata. Gerakan Jag Teman diharapkan tumbuh menjadi budaya dan kesadaran kolektif di kalangan siswa.

"Ya, setiap anak perlu didorong untuk menjadi sahabat sebaya yang memiliki empati, berani mengingatkan ketika terjadi kekeliruan, serta melaporkan tindakan yang tidak adil demi melindungi teman yang rentan," jelasnya.

Denny menekankan, kepada para pengurus Pokja BSAN yang telah dikukuhkan, agar mengesampingkan ego sektoral. Aspek perlindungan anak di sekolah merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya Dinas Pendidikan (Disdik) atau Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A). Pokja BSAN diharapkan mampu menyatukan komitmen unsur eksekutif, fungsi pengawasan DPRD, serta masukan strategis Dewan Pendidikan. 

"Selain itu, para pengurus diminta segera menyusun rencana aksiyata dan melakukan pemantauan lapangan secara berkala agar program tidak berhenti pada administrasi dan seremoni," paparnya.

Denny juga menyoroti tantangan yang dihadapi anak-anak di tengah perkembangan zaman, mulai dari derasnya arus informasi digital hingga perubahan sosial yang dapat memicu dampak negatif, seperti perundungan (bullying), kekerasan psikis, dan intoleransi verbal. 

Tantangan tersebut tidak dapat diatasi dengan pendekatan parsial, tetapi membutuhkan gerakan menyeluruh yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari upaya pencegahan hingga penanganan.


Editor : Doni Ramdhani