Polemik Trans7 dan Pesantren: Ratusan Alumni Lirboyo Gelar Aksi Damai, Desak Chairul Tanjung Temui Kiai
Mereka menuntut agar pemilik stasiun televisi Trans7, Chairul Tanjung, datang langsung menemui para masyaikh (kiai sepuh) Lirboyo untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Ratusan alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, menggelar aksi damai di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri pada Selasa (21/10/2025).
Mereka menuntut agar pemilik stasiun televisi Trans7, Chairul Tanjung, datang langsung menemui para masyaikh (kiai sepuh) Lirboyo untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Ketua Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Kediri Raya, KH Abu Bakar Abdul Jalil, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas para santri dan alumni dalam membela kehormatan pesantren.
“Kami para santri rela mengabdi kepada orang yang telah memberi ilmu. Apalagi mondok di Lirboyo bukan hanya sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Pesantren adalah tempat yang melahirkan adab dan ilmu,” ujar KH Abu Bakar dalam orasinya.
Ia menegaskan, Pesantren Lirboyo berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1910 oleh KH Abdul Karim. Sejak awal berdirinya, para kiai di pesantren telah berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa pamrih, bahkan dengan mengorbankan harta pribadi demi pendidikan santri.
“Di pesantren, kami tidak hanya diajarkan ilmu, tapi juga adab dan akhlak. Itu yang paling penting,” tambahnya.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, yang turut hadir dalam aksi tersebut, menyampaikan bahwa banyak santri dan masyarakat masih terluka akibat tayangan program Xpose Uncensored di Trans7, yang dinilai memuat framing negatif terhadap ulama dan kehidupan pesantren.
“Saya memahami perasaan para santri. Framing yang kurang pantas terhadap masyaikh tentu melukai hati mereka. Aksi ini bentuk takzim dan cinta santri kepada kiai,” ungkap Bupati Hanindhito.
Dalam tuntutannya, para santri dan alumni meminta Chairul Tanjung datang langsung ke Lirboyo untuk meminta maaf kepada para kiai. Mereka juga mendesak agar pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan dan penayangan tayangan tersebut diusut sesuai hukum yang berlaku.
Selain itu, massa menuntut Trans7 mengembalikan nama baik pesantren dan kiai dengan menayangkan program khusus yang menggambarkan kehidupan pesantren secara faktual berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Para peserta aksi juga mendesak pihak berwenang untuk meninjau izin siaran Trans7 apabila ditemukan unsur kesengajaan dalam penayangan tayangan yang dianggap merugikan tersebut.
Aksi damai ditutup dengan doa bersama dan pembacaan pernyataan sikap. Setelah itu, massa bergerak menuju Surabaya untuk melanjutkan aksi serupa.
Editor : Firda Rachmawati

