Populasi Sapi Pasundan Berpotensi Punah, Begini Upaya DKPP Jabar
Provinsi Jawa Barat boleh bangga memiliki sapi Pasundan yang kualitasnya boleh diadu dengan sapi potong lainnya. Namun saat ini, populasi sapi dengan nama latin Bos Sondaicius tersebut berpotensi punah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Provinsi Jawa Barat boleh bangga memiliki sapi Pasundan yang kualitasnya boleh diadu dengan sapi potong lainnya. Namun saat ini, populasi sapi dengan nama latin Bos Sondaicius tersebut berpotensi punah.
Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat sedang menggejot pengembangan sapi asli Jabar tersebut. Salah satunya, dengan merencanakan dibangunnya kawasan sapi potong khusus Sapi Pasundan di Kabupaten Kuningan.
"Sesuai dengan keinginan gubernur adanya cluster sapi potong. nah saya ingin mengembangkan Sapi Pasundan ini," ujar Kepala Bidang produksi dan Peternakan DKPP Jabar Aida Rosana, Jumat (3/1/2020).
Menurut Aida, Kabupaten Kuningan termasuk dalam 11 daerah sebaran Sapi Pasundan di Jabar. Khususnya kecamatan Cibingbin yang memiliki populasi Sapi Pasundan sekitar 5 ribu ekor melalui pemeliharaan intensif dan semi intensif.
Adapun populasi terbanyak berada di tiga desa, yaitu desa Ciangir 780 ekor, Dukuh Badag 4196 ekor dan Desa Bantar Panjang 3222 ekor.
"Di situ juga nantinya khusus untuk pewilayahan sumber bibit, jadi jangan ada sapi yang lain masuk ke situ selain Sapi Pasundan," katanya.
Selain itu, pihaknya pun akan berupaya menghadirkan konsumen kepada para peternak secara langsung. Mengingat, sebagai plasma nutfah, Sapi Pasundan pun hadir untuk pengembangan ekonomi masyarkat Jabar.
Salah satu yang dilakukan oleh DKPP Jabar yaitu, melakukan pertemuan dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang rencananya akan dilaksanakan ada Januari ini.
"Agar semangat petani juga lebih meningkat lagi karena harganya lebih mahal dibandingkan harga biasa," katanya.
Lebih lanjut, berdasarkan data per Oktober 2016 lalu, terdapat 31.033 polulasi Sapi Pasundan yang tersebar di 11 daerah di Jabar. Adapun sebaran populasi Sapi Pasundan di Jabar tersebut, yaitu di Kabupaten Ciamis, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi.
"Kemungkinannya saat ini populasi Sapi Pasundan berkurang," ucapnya.
Berkurangnya sapi Pasundan di Jabar ini, menurut dia, salah satunya terkena imbas dari alih fungsi lahan yang terjadi di sejumlah lokasi. Salah satunya kehadiran tol di Kabupaten Majalengka.
"Kaya kemarin ada pembukaan jalan tol di Majalengka. Sapi yang dari satu kelompok itu awalnya ada 200 ekor sekarang tinggal 99 ekor karena ada alih fungsi lahan," ungkapnya.
Selain itu, banyak pula petani yang menjual Sapi Pasundan di setiap Idul Adha. Itu lantaran belum adanya pasar khusus untuk jenis sapi ini.
"Ukurannya juga kan kecil, jadi sesuai kemampuan kita orang Jawa barat itu untuk berkurban itu lebih murah," katanya.
Lebih lanjut, Aida menambahkan, salah satu Pekerjaan Rumah dari DKPP Jabar juga melakukan pemurnian ras Sapi Pasundan. Mengingat banyak terjadi inbreeding atau kawin sedarah yang menjadikan anakan sapi menjadi kerdil.
Untuk mengatasi ini, dia mengatakan, sudah ditangulangi melalui UPTD Balai Pembibitan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak Sapi Potong di Ciamis. Termasuk dalam pengeluaran semen bekunya.
"Ke depan ini saya berharap Sapi Pasundan lebih unggul. Reproduksi juga lebih baik," katanya.
Aida menambahkan, Sapi Pasundan merupakan salah satu sumberdaya genetik ternak Jabar. Hal tersebut dipertegas berdasarkan SK Menteri Pertanian nomor 1051/Kota/SR.120/10/2014.
Kualitas daging Sapi Pasundan sendiri, dia memastikan, tak kalah dibandingkan jenis sapi lainnya. Hal itu tampak dari presentase karkas yang rata-rata di angka 53% di mana nilai tersebut lebih baik daripada sapi jenis lainnya yang rata-rata hanya 45%.
Selain itu, Sapi Pasundan juga unggul dalam daya ikat air atau water holding capacity dan susut masak.
"Selain itu ungul dalam keempukan, warna daging dan lemak dan marbling baik. Rata-rata pertumbuhan juga cukup baik, penambahan berat badan per hari mencapai 0,55 kilogram," pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)
Editor : Bsafaat

