Prostitusi Online Sulitkan Petugas Deteksi Penyebaran HIV/AIDS

Bisnis ‘lendir’ mulai kembali marak di Kabupaten Purwakarta. Namun, saat ini bisnis prostitusi tersebut bukan lagi system ‘mangkal’. Tapi sudah terselubung melalui dunia maya (online).

Prostitusi Online Sulitkan Petugas Deteksi Penyebaran HIV/AIDS
ilustrasi

INILAH, Purwakarta – Bisnis ‘lendir’ mulai kembali marak di Kabupaten Purwakarta. Namun, saat ini bisnis prostitusi tersebut bukan lagi system ‘mangkal’. Tapi sudah terselubung melalui dunia maya (online).

Pemkab Purwakarta pun, saat ini cukup kesulitan mengungkap siapa-siapa saja para ‘pemain’ prostitusi ini. Padahal, hal itu perlu diketahui. Salah satunya, guna mendeteksi penyebaran virus HIV AIDS. Mengingat, prostitusi menjadi salah satu faktor penyumbang penularan virus mematikan tersebut.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Purwakarta, Aulia Pamungkas menyadari hal itu. Pihaknya pun sangat memprihatinkan dengan kembali menjamurnya bisnis ‘esek-esek’. tersebut. 

“Kami kesulitan mengungkapnya. Karena, praktik prostitusi kali ini bukan lagi di tempat lokalisasi, tapi sudah menggunakan sistem online,” ujar Aulia kepada wartawan, Senin (2/12/2019).

Adapun upaya yang bisa dilakukan jajarannya, yakni dengan melngintensifkan razia ke hotel dan kos-kosan. Karena, dari laporan yang diterimanya, diduga ada kos-kosan yang dijadikan tempat mesum. Jadi transkasinya melalui online, dan tempatnya di kos-kosan.

Menurut dia, praktek prostitusi secara daring mulai bermunculan sejak pemerintahan daerah membubarkan lokalisasi prostitusi di kawasan Cilodong, Kecamatan Bungursari beberapa tahun lalu. Kawasan tersebut, kini terkesan berubah menjadi religius setelah dibangunnya kawasan Tajug Gede.

Memang, saat lokalisasi di kawasan yang berbatasan dengan wilayah Cikampek, Karawang itu masih ada, petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta rutin melakukan pemeriksaan HIV kepada para PSK. Selain itu, pemeriksaan serupa juga menyasar populasi kunci lain seperti kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular di Dinkes Purwakarta Meisera menyebutkan jumlah pengidap HIV di daerahnya terus meningkat. Dari awalnya tercatat 79 kasus pada 2013 menjadi 518 kasus pada 2018.

“Di 2019 ini, jumlahnya kembali meningkat menjadi 600-an totalnya. Jumlah penderita ini, akumulasi dari tahun ke tahun,” ujar Meisera beberapa waktu lalu. (Asep Mulyana)


Editor : JakaPermana