Pulang dari Jerman, Ludicia Diseret ke DCDC Pengadilan Musik
Band metal asal Bali, Ludicia yang berhasil menjadi juara di final show Wacken Open Air (W:O:A) Metal Battle Indonesia 2022 langsung dibawa ke pengadilan musik
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Djarum Coklat Dot Com (DCDC) pengadilan musik yang digelar di Kantin Nation The Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung, Kamis, 22 September 2022 malam menyuguhkan tontonan menarik.
Pasalnya, yang menempati kursi terdakwa adalah Ludicia. Band metal asal Bali yang berhasil menjadi juara di final show Wacken Open Air (W:O:A) Metal Battle Indonesia 2022 dan menempati posisi 6 dari 42 negara yang tampil di W:O:A Metal Battle Internasional di Jerman awal Agustus 2022 lalu.
Ludicia yang terdiri dari Christian sebagai vokal, Gung Sincan sebagai gitar, Monot sebagai drum dan Faisal sebagai audisional gitar, diseret menjadi terdakwa untuk mempertanggung jawabkan album perdana bertajuk Avontur dan disusul dengan single berjudul 'Intiha'.
Pemilihan Avontur sebagai tajuk dari album perdana mereka ini didasari oleh makna dibaliknya yang berhubungan erat dengan perjuangan serta ‘petualangan’ yang mengisahkan perjalanan Ludicia. Sehingga, setiap lagu yang ada di album perdanya pun memiliki benang merah pada setiap liriknya, yang jika disimak akan terasa seperti dongeng dari ‘petualangan’ yang mereka lalui.

Dalam penggarapan album Avontur, Ludicia banyak melibatkan rekan musisi Bali dan Indonesia untuk mengisi beberapa lagu seperti: Sandy Winarta (Jazz Masters), Copletz (Painful by Kisses), Nova (Scared of Bums), Indra (Bersimbah Darah), Guz Cilix (Trojan), Dj Geramar (Mukarakat), Dhenaldi (Divide), Andre Tiranda (Siksa Kubur), Ari Wedayanti dan Narreth (Armaproject).
Ludicia pun langsung dicecar beberapa pertanyaan dari Jaksa Penuntut yang diduduki Budi Dalton dan Pidi Baiq. Salah satunya mengenai alasannya menampilkan budaya Bali saat tampil diatas panggung.
"Mungkin itu suatu ikonik dan kebetulan banyak yang sudah hafal dengan budaya kami dan tentunya saat di Jerman, itu pengaruh banget," jawab Christian.
Yoga PHB dan Andre Vinsens Jeruji sebagai Pembela menambahkan bahwa pertunjukan dengan budaya Bali memiliki nilai lebih. Terbukti dengan prestasi yang telah diraih Ludicia di W:O:A Metal Battle Indonesia maupun di W:O:A Metal Battle Internasional di Jerman.
Christian akui tidak mudah untuk bisa membawakan budaya Bali dalam pentas pertunjukan. Diperlukan kehati-hatian dan latihan yang esktra agar bisa diterima oleh semua orang.
"Seperti barong, keris bali, kita belajar juga caranya membawa itu," katanya.
Kedua Jaksa Penuntut lantas membongkar background musik dari keempat personel Ludicia tersebut. Secara keseluruhan, bukan berasal dari musik metal.
Seperti halnya Gung Sincan yang sebelumnya memainkan lagu pop. Lalu Monot yang merupakan drumer punk rock serta Christian yang sebelumnya merupakan gitaris.
Terkait mengenai single berjudul Itihad, Budi Dalton mempertanyakan alasannya. Sebab, lagu itu dirilis sebelum tampil di W:O:A Metal Battle Internasional di Jerman.
"Kita ingin menjadikan sebagai jati diri dan kebetulan itu sudah menjadi waktu yang tepat. Dan artinya itu bukan menunjukan seseorang. Tapi ditunjukan kepada orang yang dalam artian gak kerja tapi ngeluh, gak ngide tapi suka menolak dan akhirnya kegelisahan itu yang membuat kita tulis dalam lirik," jelas Christian.
Pidi Baiq lantas mempertanyakan perjalanan Ludicia setelah tampil di W:O:A Metal Battle Internasional di Jerman. Christian dengan lantang menjawab akan menyiapkan single kedua.
Man Jasad sebagai Hakim pun memberikan pendapatnya bahwa prestasi Ludicia ini menunjukan bahwa musisi Indonesia tidak hanya terpaku di negaranya.
"Musik itu tidak ada batasan, kita tunjukan ke dunia dengan sedikit gaya tapi banyak karya. Ludicia mungkin baru seumur jagung, tapi mereka sudah membuktikan. Sidang dinyatakan selesai dan ditutup, semoga Ludicia bisa perform di manca negara," harapnya.
Ludicia sendiri menunjukan rasa kagumnya dengan acara DCDC pengadilan musik ini. Terlebih, pertanyaan yang dilontarkan Jaksa Penuntut sangat menghibur dan out of the box.
"Bangga kita berada di sini, karena sudah banyak banget musisi yang sudah duduk di kursi ini (terdakwa) ini. Jadi kita sangat senang dan bangga bisa ada di sini," ucap Christian.
Terkait mengenai kans album setelah mendapatkan kesempatan tampil di W:O:A Metal Battle Internasional di Jerman, Christian memastikan sudah memiliki bekal yang sangat berharga.
"Bekalnya lebih banyak dari segi musik dan proses pengerjaan dan kami disana kami bertemu beberapa musisi dan promotor, disana kami sempat menanyakan bagaimana di dalam produksi. Mungkin kami akan coba terapkan sebisa mungkin. Karena dari equipment kita berbeda, jadi kita submit apa yang kita dapat dari sana," tuturnya.
Christian lega lantaran sejauh ini promo album yang dilakukan mendapatkan kesan positif. Karena itu, ia menyampaikan rasa terimakasihnya atas dukungan yang telah diberikan.
Sementara itu, Agus Danny Hartono selaku perwakilan DCDC pengadilan musik memiliki alasan menjadikan Ludicia menjadi terdakwa. Apalagi band metal asal Bali ini menempati posisi 6 dari 42 negara yang tampil di W:O:A Metal Battle Internasional di Jerman.
"Kebetulan di bawa ke pengadilan musik ini karena mereka punya karya baru namanya Intiha. Secara materi juga teman-teman sudah lihat tadi ketika ada potongan klip di acara pengadilan musik dan lagi kita juga punya project ke depannya dengan Indonesia untuk main di Eropa. Karena banyak permintaan dari Eropa terutama Prancis, Swedia sama Ceko untuk ngirim Indonesia untuk berkegiatan dikirim kesana," kata Agus Danny.
Secara perform di Jerman, lanjutnya, Ludicia memberikan kebanggaan untuk Indonesia. Tampil di hari kedua dengan menempati band ke-8, mendapatkan banyak poin maksimal.
"Alhamdulillah ada beberapa negara yang memberikan poin maksimal. Seperti Prancis, Swedia, Ceko itu dia memberikan poin sempurna sebanyak 5. Nah teman-teman itulah yang memberikan poin sempurna sehingga Ludicia menempati posisi 6. Sementara kayak Asia sendiri, Cina, Jepang ngasih poin ke Indonesia tapi poin nya tidak maksimal, hanya sekadar 2 dan 1," pungkasnya.(Muhammad Ginanjar)
Editor : Ahmad Sayuti

