Puskesmas Cihurip Gandeng Tukang Ojek Jadi Ambulans Roda Dua

Mengantisipasi keterlambatan penanganan kegawatdaruratan kesehatan khususnya ibu dan anak yang terkendala sulitnya transportasi akibat kondisi geografis, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Cihurip, Kecamatan Cihurip Selatan, Kabupaten Garut menggandeng tukang ojek sebagai mitra ambulans motor.

Puskesmas Cihurip Gandeng Tukang Ojek Jadi Ambulans Roda Dua
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Mengantisipasi keterlambatan penanganan kegawatdaruratan kesehatan khususnya ibu dan anak yang terkendala sulitnya transportasi akibat kondisi geografis, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Cihurip, Kecamatan Cihurip Selatan, Kabupaten Garut menggandeng tukang ojek sebagai mitra ambulans motor.

Inovasi pemberdayaan tukang ojek berupa program Tukang Ojeg Puskesmas dengan Ambulans Motor (TOP de Amor) tersebut digulirkan sejak 2017. Tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar Puskesmas itu menjadi mitra.

Jasa tukang ojek tersebut terutama dibutuhkan mengantar dan menjemput pasien yang tak memiliki akses memadai ke Posyandu. Kalau pun ada kendaraan namun jalan menuju ke Puskesmas itu terkendala kondisi geografis pegunungan. 

"Disesuaikan dengan kondisi jalan dan jarak. Mereka harus siap dipanggil untuk menjemput ibu bersalin dari rumah tempat tinggal ke Puskesmas Cihurip atau antarjemput bidan untuk melaksanakan kunjungan Ante Natal Care (ANC) ke rumah ibu hamil yang kurang mengakses ke Posyandu dan Puskesmas," kata Kepala UPT Puskesmas Cihurip Kusyanadi, Jumat (6/9/2019).

Dia menyebutkan, pembayaran penggunaan jasa tukang ojek itu cukup sederhana. Tukang ojek dibayar penumpang/ibu hamil penerima BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Jampersal melalui Puskesmas Cihurip. Sedangkan, biaya transportasi ibu hamil yang non-BPJS PBI dan non-Jampersal dibayar langsung keluarga.

Kusnayadi berharap dengan program TOP de Amor itu, kasus kematian ibu dan bayi di wilayah kerjanya bisa teratasi. Pun pelayanan kesehatan ibu berisiko terhadap kasus kematian ibu dan bayi serta persalinan oleh tenaga kesehatan bisa ditanggulangi.

“Dari sisi ekonomi juga dapat mendukung terhadap pemberdayaan tukang ojek,” ujarnya.

Dia menuturkan, kasus kematian ibu dan bayi saat proses persalinan di Kabupaten Garut hingga kini masih relatif tinggi. Menurut Perwakilan USAID Jalin Provinsi Jawa Barat Joko Sutikno, sejak 2011 tren kematian ibu di Garut cenderung meningkat. Padahal, rata-rata kematian ibu di Jabar cenderung menurun.

Pada 2018 lalu, Garut menempati urutan ketiga terbanyak di Jabar dalam kasus angka kematian ibu melahirkan (AKI) dengan kematian ibu sebanyak 55 kasus. Sebesar 29% itu diakibatkan kasus pendarahan pascapersalinan.

Khusus angka kematian bayi (AKB), sejak 2013 tren kematian bayi baru lahir di Garut juga meningkat. Padahal, rata-rata kematian bayi baru lahir di Jabar cenderung menurun. Sejak 2016-2018, Garut pun tercatat sebagai kabupaten dengan kematian bayi baru lahir tertinggi. (Zainulmukhtar)


Editor : Doni Ramdhani