Ratusan Warga Desa Sukagalih Berharap Eiger Adventure Land Tidak Ditutup

Masyarakat Kampung Lemah Neundeut, Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, mengaku khawatir dengan kemungkinan penutupan kawasan ekowisata Eiger Adventure Land.

Ratusan Warga Desa Sukagalih Berharap Eiger Adventure Land Tidak Ditutup

INILAHKORAN, Bogor - Masyarakat Kampung Lemah Neundeut, Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, mengaku khawatir dengan kemungkinan penutupan kawasan ekowisata Eiger Adventure Land.

Seperti diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dikabarkan mencabut persetujuan atau ijin lingkungan karena pihak Eiger Adventure Land dan belasan maupun puluhan perusahaan lainnya di Kawasan Puncak dan Babakan Madang tidak memenuhi kajian lingkungan strategis.

Padahal, keberadaan tempat Eiger Adventure Land tersebut telah memberikan dampak besar terhadap perekonomian warga, terutama melalui penyediaan lapangan kerja bagi sekitar 300 orang.

Tokoh masyarakat setempat, Fahmi, menuturkan bahwa sejak berdiri pada 2018, Eiger Adventure Land tidak hanya membuka peluang kerja bagi pemuda, tetapi juga bagi warga lanjut usia berusia 50–60 tahun.

Kehadiran Eiger, menurutnya, turut mendorong tumbuhnya usaha kecil, seperti warung makan dan rumah kontrakan, serta membantu banyak keluarga menyekolahkan anak-anak mereka.

“Kalau sampai ditutup, masyarakat pasti terpukul. Ada risiko anak-anak putus sekolah karena orang tuanya kehilangan mata pencaharian,” ungkap Fahmi, Senin, 18 Agustus 2025.

Sebelum ada Eiger Adventure Land, kawasan tersebut merupakan lahan gundul yang hanya ditanami sayuran dan pisang dengan sistem bagi hasil. 

Seiring kehadiran Eiger Adventure Land, dilakukan reboisasi dengan penanaman sekitar 50 ribu pohon, di mana masyarakat juga dilibatkan dan mendapat upah dari proses tersebut.

Hal senada disampaikan Ketua RT setempat, Mumuh. Ia menyebut mayoritas warganya kini bekerja di Eiger Adventure Land. Dari tiga RT, jumlah pekerja mencapai sekitar 300 orang.

“Dulu lahan ini hanya ditumbuhi ilalang, sekarang banyak pohon besar tumbuh, sehingga lebih hijau. Saya pribadi sangat mendukung keberadaan Eiger Adventure Land karena membuka kesempatan kerja. Kalau ditutup, kasihan warga yang bakal kehilangan penghasilan,” kata Mumuh.

Sementara ratusan pekerja mengkhawatirkan dengan adanya penutupan lokasi ekowisata tersebut akan berdampak langsung pada meningkatnya pengangguran dan terancamnya perekonomian lokal.

Beberapa pekerja lokal, seperti  Murji (48 tahun) dan Wawan (50)juga menyatakan rasa syukur mereka. 

Selama tujuh tahun bekerja di Eiger Adventure Land, kebutuhan keluarga bisa terpenuhi. 

“Kalau ditutup, kami bingung harus mencari kerja ke mana. Kami tidak punya ijazah, hanya bisa bekerja serabutan,” imbuh Murji dan Wawan.

Yuyun (65 tahun), menjelaskan tugasnya bersama teman temannya adalah merawat tanaman dan hutan sekitar Eiger Adventure Land. 

"Sejak 3 tahun lalu kita semua mulai bekerja disini, Kita menanam bibit, mengurus bibit,  dengan keberadaan Eiger ini apa yang didapatkan oleh bersyukur, lebih ke lapangan kerja buat warga sekitar termasuk yang sudah lanjut usia (Lansia)," jelas Yuyun.

Ia melanjutkan, setelah bekerja di Eiger Adventure Land ini ada peningkatan kesejahteraan.

"Alhamdulillah ya kalau bisa sih tempatnya, jangan tutup, dibuka demi warga sekitar, berat hidup kami, kalau misalnya ditutup terus cari kerja ke mana lagi dengan usia yang sudah tua dan tidak memiliki ijasah tinggi," lanjut ibu Yuyun sembari mengusap air matanya yang berlinang. (Reza Zurifwan)


Editor : Ahmad Sayuti