Antisipasi TPA Sarimukti Penuh, DLH Cimahi Maksimalkan Mesin Pengolah Sampah
DLH Kota Cimahi akan memanfaatkan dan memaksimalkan mesin pengolah sampah sumbangan dari Pemprov Jabar mengantisipasi penutupan TPA Sarimukti
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat yang diprediksi mencapai batas maksimal daya tampung pada Oktober mendatang menjadi tantangan serius bagi Kota Cimahi.
Menyikapi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi merancang serangkaian langkah strategis menyeluruh, salah satunya dengan memanfaatkan bantuan mesin pengolah sampah dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat guna mengurangi ketergantungan yang selama ini tinggi terhadap pembuangan sampah ke lokasi tersebut.
Langkah itu dinilai penting agar pengelolaan limbah perkotaan tidak terhenti dan tetap berjalan teratur meskipun akses ke TPA utama semakin terbatas.
Kepala Bidang Pengelolaan sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Kota Cimahi, Beny Gunadi mengakui pihaknya telah menerima informasi resmi terkait rencana penyaluran bantuan alat pengolah sampah dari Pemprov Jawa Barat.
Kendati rincian mengenai jumlah titik penempatan alat tersebut belum dapat dipastikan secara pasti, lanjut Beny, bantuan ini diharapkan mampu mendongkrak kapasitas pengolahan sampah di tingkat daerah secara signifikan sebelum kondisi TPA Sarimukti benar-benar tidak mampu lagi menampung kiriman sampah dari berbagai wilayah sekitar.
“Informasinya betul akan ada bantuan mesin pengolah sampah dari provinsi. Tapi untuk jumlah titiknya belum bisa kami pastikan,” ungkap Beny, Jumat (19/6/2026).
Tak sekadar menunggu kedatangan bantuan peralatan dari provinsi, jelas Beny, DLH Kota Cimahi juga secara serentak berupaya mengoptimalkan seluruh fasilitas pengolahan sampah yang sudah tersedia di wilayahnya.
"Upaya ini dijalankan dengan tujuan utama agar volume sampah yang harus dikirim ke TPA Sarimukti dapat ditekan semaksimal mungkin, sehingga beban pada lokasi pembuangan akhir tersebut berkurang drastis," jelasnya.
Beny menyebut, salah satu fasilitas yang menjadi fokus utama penguatan, yakni Tempat Pengelolaan sampah Terpadu (TPST) Santiong yang berlokasi di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, yang jika beroperasi secara maksimal memiliki kemampuan mengolah hingga 85 ton sampah setiap harinya.
“Tapi sekarang memang belum optimal. Kemudian ada juga TPST lain dan TPS3R yang akan maksimalkan pengelolaan di sana. Kemudian ada juga maggotisasi sama bank sampah,” sebutnya.
Lebih lanjut Beny menuturkan, upaya penguatan tidak hanya berhenti pada perbaikan fasilitas fisik semata, melainkan juga merambah ke pengelolaan berbasis masyarakat melalui pengembangan program bank sampah dan budidaya maggot.
"Kedua inisiatif ini dirancang sebagai strategi penekanan jumlah sampah sejak dari sumbernya, sehingga volume yang perlu diangkut menuju TPA dapat diminimalkan sejak awal," tuturnya.
Selain itu, sambung Beny, DLH juga menjalin kerja sama erat dengan Dinas Pendidikan untuk menanamkan kesadaran pengelolaan sampah yang benar di lingkungan sekolah, dengan materi utama berupa kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sejak usia dini.
“Minimalnya siswa itu tidak pakai plastik sekali pakai misalnya, bawa tumbler ke sekolah. Harapannya kan tentu saja siswa sejak dini sudah tahu mana sampah organik dan anorganik,” imbuhnya.
Beny mengakui keberhasilan dalam menekan jumlah sampah tidak hanya bergantung pada kelengkapan fasilitas atau kecanggihan mesin pengolah, melainkan sangat ditentukan oleh partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
Oleh karena itu, warga Kota Cimahi diminta untuk mulai membiasakan memilah sampah secara mandiri sejak dari rumah masing-masing, karena langkah sederhana ini memiliki dampak besar dalam mengurangi tumpukan sampah yang akhirnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Pilah sampah ini tentunya menjadi hal wajib yang harus dilakukan. Sehingga kami meminta masyarakat dengan kesadarannya untuk melakukan kebiasaan ini,” tegasnya.
Beny juga menilai, kolaborasi yang solid antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat merupakan kunci utama untuk melewati masa kritis menjelang penuhnya TPA Sarimukti pada Oktober mendatang.
"Dengan dukungan alat pengolah sampah dari provinsi bersamaan dengan optimalisasi fasilitas yang ada serta perubahan perilaku warga, diharapkan pengelolaan sampah di Kota Cimahi dapat bertransformasi menjadi lebih mandiri, teratur, dan berkelanjutan dalam jangka panjang tanpa terus-menerus bergantung pada satu lokasi pembuangan akhir saja," tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti


