Daya Tampung TPA Sarimukti Habis Oktober 2026, DLH Cimahi Siapkan Solusi Pengelolaan

Menyusul perkiraan berakhirnya masa pakai TPA Sarimukti pada Oktober 2026 mendatang, DLH Kota Cimahi segera menyusun sejumlah upaya antisipasi. 

Daya Tampung TPA Sarimukti Habis Oktober 2026, DLH Cimahi Siapkan Solusi Pengelolaan
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Kota Cimahi Beny Gunadi mengatakan, salah satu dukungan yang ditunggu adalah bantuan mesin pengolah sampah dari Pemprov Jabar. (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Menyusul perkiraan berakhirnya masa pakai TPA Sarimukti pada Oktober 2026 mendatang, DLH Kota Cimahi segera menyusun sejumlah upaya antisipasi. 

Hal itu dilakukan agar aliran sampah dari kota ini tidak terhenti dan tetap bisa tertangani dengan baik meski fasilitas pembuangan akhir utama tersebut tidak lagi dapat digunakan.

Kepala Bidang Pengelolaan sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Kota Cimahi Beny Gunadi mengatakan, salah satu dukungan yang ditunggu adalah bantuan mesin pengolah sampah dari Pemprov Jabar.

Kendati kepastian jumlah titik penempatannya belum final, namun kehadiran alat tersebut diharapkan mampu membantu mengurangi volume sampah yang harus dikirim ke TPA Sarimukti.

“Kami menerima informasi bahwa akan ada bantuan peralatan pengolahan dari provinsi. Ini menjadi salah satu solusi yang kami harapkan, meski untuk rincian lokasi dan jumlahnya masih menunggu kepastian resmi,” kata Beny, Jumat (12/6/2026).

Selain menunggu bantuan peralatan, jelas Beny, pihaknya juga berfokus pada pengoptimalan fasilitas pengolahan yang sudah ada. Salah satunya Tempat Pengelolaan sampah Terpadu (TPST) Santiong di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara. 

"Jika beroperasi secara maksimal, fasilitas ini mampu mengolah hingga 85 ton sampah per hari. Saat ini kinerjanya belum mencapai kapasitas penuh, sehingga akan dilakukan perbaikan dan peningkatan layanan," jelasnya.

Upaya lain yang ditempuh, yakni dengan memaksimalkan kinerja TPST dan Tempat Pengolahan sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang tersebar di berbagai wilayah. 

"Selain itu, pengolahan juga diperluas melalui metode maggotisasi untuk sampah organik serta pengembangan bank sampah guna meningkatkan nilai guna sampah anorganik," ujarnya.

Kendati demikian, Beny tak memungkiri solusi jangka panjang tidak hanya bergantung pada peralatan, melainkan juga perubahan perilaku masyarakat. 

Untuk itu, DLH bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi menyasar lingkungan sekolah dengan mengajarkan para siswa cara memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan membawa wadah minum sendiri.

“Kami ingin menanamkan kebiasaan baik sejak dini. Jika siswa terbiasa memilah dan mengurangi sampah, kebiasaan ini akan terbawa hingga ke rumah dan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Beny menyebut, upaya paling mendasar yang diharapkan berjalan maksimal, yakni kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya atau di rumah tangga. 

Pasalnya, dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, volume yang harus dikirim ke TPA akan berkurang secara signifikan, sehingga beban terhadap sistem pengelolaan menjadi lebih ringan.

“Memilah sampah itu hal sederhana tapi berdampak besar. Kami mengajak seluruh warga Cimahi melakukannya dengan kesadaran sendiri," ujarnya.

"Ini kontribusi nyata agar kota tetap bersih dan tidak menghadapi krisis pengelolaan sampah saat TPA Sarimukti sudah tidak dapat digunakan lagi,” tambahnya. 


Editor : Doni Ramdhani