Gaslah Kota Bandung Lampaui Target, Ini Kendala Utama di Lapangan

DLH Kota Bandung menyebut, tantangan utama program Gaslah bukan terletak pada SDM melainkan pada kesiapan teknologi dan fasilitas pengolahan sampah.

Gaslah Kota Bandung Lampaui Target, Ini Kendala Utama di Lapangan
Capaian pemilahan sampah melalui program Gaslah saat ini sebenarnya sudah melampaui target yang ditetapkan. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung menyebut, tantangan utama program Gaslah bukan terletak pada SDM melainkan pada kesiapan teknologi, dan fasilitas pengolahan sampah.

Kepala DLH Kota Bandung Darto mengatakan, capaian pemilahan sampah melalui program Gaslah saat ini sebenarnya sudah melampaui target yang ditetapkan. Namun, pihaknya belum berencana meningkatkan volume pemilahan secara signifikan sebelum memastikan kapasitas pengolahan memadai.

"Kendalanya bukan pada SDM, melainkan pada alat atau teknologi pengolahannya. Karena itu kami belum terburu-buru menaikkan volume pemilahan," kata Darto, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, semakin besar volume sampah yang dipilah semakin besar pula kebutuhan fasilitas untuk mengolahnya. Jika kapasitas pengolahan belum siap, sampah yang sudah dipilah berpotensi menumpuk dan tetap harus diangkut sebagai sampah biasa.

"Misalnya jika volume pemilahan dinaikkan sampai 200 ton, apakah fasilitas pengolahannya sudah siap? Kalau belum siap, tentu menjadi masalah," ucapnya.

Darto menjelaskan, capaian program Gaslah saat ini telah mencapai lebih dari 66 ton sampah per hari. Angka tersebut melampaui target awal yang ditetapkan sebesar 40 ton per hari.

"Rata-rata saat ini sudah di atas 60 ton per hari. Sebagai contoh, pada tanggal 10 capaian mencapai 59,9 ton atau sekitar 60 ton per hari," ujar dia.

Meski demikian, pihaknya memilih fokus memastikan sampah hasil pemilahan dapat diolah secara optimal. Keberhasilan program, tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dipilah. Namun juga dari kemampuan mengolahnya hingga tuntas.

"Jangan sampai setelah dipilah, justru menjadi tambahan sampah yang akhirnya tetap harus diangkut. Percuma jika sampah organik sudah dipilah tetapi belum ada solusi pengolahan di lapangan," tuturnya.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pihaknya tengah mengembangkan sistem kompos pit sebagai salah satu solusi pengolahan sampah organik. Metode itu, dilakukan dengan membuat lubang kompos yang dirancang agar proses penguraian berlangsung lebih cepat dan hasilnya dapat dimanfaatkan menjadi kompos.


Editor : Doni Ramdhani