Farhan Evaluasi, Program Gaslah di RW 06 Kebon Gedang Minim Peminat

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyoroti, rendahnya partisipasi warga dalam pengelolaan sampah saat meninjau RW 06, Kelurahan Kebon Gedang.

Farhan Evaluasi, Program Gaslah di RW 06 Kebon Gedang Minim Peminat
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti rendahnya partisipasi warga RW 06 Kebon Gedang dalam program pengelolaan sampah Gaslah./INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyoroti, rendahnya partisipasi warga dalam pengelolaan sampah saat meninjau RW 06, Kelurahan Kebon Gedang.

Meski program pengolahan sampah melalui petugas pemilah dan pengolah sampah (Gaslah) sudah berjalan penuh, tak satu pun warga setempat bersedia menjadi petugas.

Menurut ia, kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung karena keberhasilan program berbasis kewilayahan sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.

“Tadi ada satu orang, Ketua RW di RW 06 ini yang mengeluhkan justru warganya partisipasi dan pemberdayaannya kurang. Bahkan tidak ada yang mau jadi petugas pemilah atau pengolah sampah (Gaslah),” kata Farhan, Jumat 27 Februari 2026.

Ia menegaskan, meskipun partisipasi warga minim. Operasional pengolahan sampah di RW tersebut tetap berjalan. Pemerintah bersama pengelola, menghadirkan petugas dari luar wilayah demi memastikan program tidak berhenti.

“Alhamdulillah, Gaslahnya sudah full. Jadi walaupun warganya tidak mau jadi Gaslah, kita transfer kombinasi ibaratnya seperti itu,” ucapnya.

Farhan mengakui capaian pengurangan, dan pengolahan sampah di RW 06 belum optimal. Namun ia memastikan, pendekatan persuasif akan dilakukan termasuk berkoordinasi dengan anggota dewan di daerah pemilihan setempat.

“Kami ingin melakukan pendekatan bersama anggota dewan di dapil ini untuk melihat, jangan-jangan selama ini program pemerintah memang tidak terlalu menarik minat masyarakat untuk berpartisipasi,” ujar dia.

Ia menilai, persoalan tersebut bukan semata-mata soal teknis. Tetapi juga menyangkut pola komunikasi dan skema pemberdayaan yang perlu dievaluasi.

"Kami akan mendalami lebih jauh kondisi di RW 06 untuk mencari formulasi yang tepat, agar warga memiliki rasa kepemilikan terhadap program pengelolaan sampah," jelasnya.

Di sisi lain, Farhan membandingkan kondisi di wilayah lain yang dinilai lebih progresif. Di RW 12 Kelurahan Maleer misalnya. Fasilitas pengolahan sampah di sana, bahkan disebut telah melebihi kapasitas.

“Kalau tadi di Maleer sudah sangat bagus. Bahkan tempat pengolahan sampahnya di RW 12 itu kelihatannya melebihi kapasitas,” ujar dia.

Sebagai tindak lanjut, Pemkot Bandung berencana membuka fasilitas pengolahan sampah baru di RW 07 Kelurahan Maleer mengantisipasi peningkatan volume dan kapasitas layanan.

Wilayah tersebut juga, telah masuk dalam program Kawasan Bebas Sampah (KBS) meski kapasitas pengelolaannya masih akan ditinjau kembali. Farhan memastikan, dirinya akan kembali meninjau lokasi melihat perkembangan dan memastikan sistem pengelolaan berjalan efektif.

“Saya akan melihatnya lebih jauh lagi. Kedua kali nanti ke sini untuk melihat kapasitas pengelolaan sampah di sini. Ketika Gaslah itu meningkat atau biasanya seperti apa, itu yang akan kita evaluasi,” jelasnya.

Ia berharap dengan evaluasi menyeluruh dan pendekatan kolaboratif, partisipasi warga di RW 06 dapat meningkat. Sehingga pengelolaan sampah tidak hanya berjalan secara operasional. Namun juga tumbuh sebagai gerakan bersama masyarakat.


Editor : JakaPermana