Menteri Lingkungan Hidup Minta Program Gaslah Kota Bandung Terus Diperbesar
Menteri LH Hanif Faisol meminta agar program Gaslah Kota Bandung terus ditingkatkan bahkan diperbesar cakupannya
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, program petugas pemilah dan pengolah sampah (Gaslah) di Kota Bandung tidak boleh berhenti di tengah jalan. Konsistensi dan ketahanan, menjadi kunci utama keberhasilan program berbasis masyarakat tersebut.
Hanif menyebutkan, Gaslah merupakan langkah paling mendasar dalam penanganan sampah karena bertumpu pada perubahan perilaku warga dari tingkat lingkungan terkecil. Meski demikian, ia mengakui proses tersebut tidak bisa instan dan membutuhkan waktu panjang.
“Ini merupakan langkah yang paling mendasar untuk penanganan sampah. Sekali lagi, gerakannya relatif cepat yang dilakukan Gaslah. Banyak negara memerlukan waktu 10 sampai 15 tahun untuk berbuat hal yang sama,” kata Hanif Faisol Nurofiq, Sabtu 28 Februari 2026.
Ia mencontohkan, di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah. Gerakan tersebut telah dimulai sejak 2019. Artinya, transformasi sistem pengelolaan sampah dan perubahan budaya masyarakat membutuhkan masa inkubasi serta pemerapan yang konsisten.
“Kita hari ini berada di RW 19 dan di tahun 2019 dia memulainya. Jadi tidak ada yang instan, semuanya pakai masa inkubasi, masa pemerapan di masyarakat,” ucapnya.
Hanif menekankan, tantangan terbesar bukan hanya pada teknis pengelolaan. Melainkan pada menjaga semangat, dan komitmen seluruh pihak agar tidak lelah menjalankan program. Ia menyebut, penguatan Gaslah ke depan akan menyerap berbagai sumber daya. Mulai dari pendanaan hingga sumber daya manusia.
“Tentu harapan saya, Gaslah ini semakin besar. Tidak boleh lelah dan memang akan banyak menyerap sumber daya, sumber dana, SDM dan itu harus dilakukan karena memang tidak ada kata lain untuk Kota Bandung,” ujar dia.
Pernyataan tersebut, sekaligus menjadi dorongan agar pemerintah daerah dan masyarakat tetap menjaga kesinambungan gerakan. Menurut ia, tanpa ketahanan dan konsistensi. Upaya pengelolaan sampah yang telah dirintis dari tingkat RW, berisiko terhenti sebelum mencapai dampak yang lebih luas.
Dengan pendekatan berbasis komunitas yang telah berjalan beberapa tahun, Gaslah dinilai Hanif memiliki fondasi kuat.
"Namun keberhasilan jangka panjang, tetap ditentukan komitmen kolektif untuk terus bergerak, memperluas cakupan dan memastikan perubahan perilaku masyarakat menjadi budaya permanen dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung," tandas dia.
Editor : Ahmad Sayuti

