Atasi Krisis Sampah Pasca Penutupan TPA Sarimukti, Pemkot Cimahi Gandeng Akademisi
Pemkot Cimahi melakukan kerjasama dengan akademisi untuk pengelolaan asmpah antisipasi penumpukan jelang penutupan TPA Sarimukti
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi mengambil konkret dan strategis melalui penguatan kolaborasi lintas unsur untuk menghadapi dipastikannya penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti hingga Oktober 2026.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana menjelaskan, kerjasama menjadi satu-satunya jalan keluar agar masalah sampah yang mendesak ini tidak berubah menjadi bencana lingkungan yang lebih besar.
"Kerja sama yang terjalin antara pemerintah daerah dengan kalangan akademisi menjadi fondasi utama lahirnya terobosan teknologi dan metode pengolahan sampah yang tepat sasaran dan ramah lingkungan," kata Ngatiyana, Senin (8/6/2026).
Ngatiyana menilai, komitmen ini bukan sekadar janji di atas kertas. Bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, telah disusun rencana besar untuk wilayah Bandung Raya, termasuk Cimahi, di mana setiap kelurahan nantinya dipastikan akan dilengkapi alat pengolah sampah mandiri berkapasitas 5 hingga 10 ton per hari.
“Rencana ini nyata, bukan sekadar wacana. Saat ini pemesanan alatnya sedang diproses, dan setelah siap, alat-alat tersebut akan langsung didistribusikan ke setiap desa dan kelurahan di wilayah kita,” ujarnya.
Ngatiyana menuturkan, logika penerapan sistem ini sangat jelas dan efisien. Jika pengolahan dilakukan langsung di tempat timbulan sampah, maka penumpukan sampah di jalanan maupun ketergantungan penuh terhadap lokasi pembuangan akhir yang jauh dapat dihapuskan secara bertahap.
"Melalui kerja sama dengan dunia pendidikan, para akademisi dilibatkan secara aktif untuk melakukan penelitian dan merumuskan strategi pengelolaan yang paling efektif, efisien, dan berkelanjutan," imbuhnya.
Ngatiyana menyebut, pihaknya menerapkan pendekatan pentahelix dengan melibatkan lima pilar utama, antara lain akademisi, media, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas masyarakat.
"Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan solusi nyata yang tidak hanya dirasakan oleh pihak berwenang, tetapi juga dapat dijalankan dan diawasi langsung oleh warga di lingkungannya masing-masing," sebutnya.
Ngatiyana mengungkapkan, upaya percepatan ini dipicu kondisi darurat di lapangan. Berdasarkan data terbaru, TPA Sarimukti tidak lagi dapat menampung sampah dari berbagai daerah penyangga, termasuk Cimahi, hingga bulan Oktober mendatang.
Padahal, setiap harinya Kota Cimahi menghasilkan sekitar 250 ton sampah. Angka yang sangat besar ini menjadi alarm keras bahwa solusi harus segera diterapkan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan baru.
“Strategi kita berjalan di dua jalur. Pertama, memaksimalkan fasilitas pengolahan yang sudah tersebar di wilayah utara, tengah, dan selatan Cimahi. Kedua, menegaskan kembali pentingnya pemilahan sampah mulai dari sumbernya, yaitu di rumah tangga,” jelasnya.
Ngatiyana menegaskan, pemilahan sejak dini menjadi kunci keberhasilan sistem baru ini. Ia menjelaskan, warga hanya perlu memisahkan sampah organik dan anorganik agar kinerja mesin pengolah di tingkat kelurahan dapat berjalan maksimal tanpa kendala.
Meski begitu, ia tak menampik tantangan yang dihadapi sangat berat pasca penutupan akses ke Sarimukti, Wali Kota tetap optimis.
“Insyaa Allah kita akan mencarikan jalan keluar terbaik. Mari kita selesaikan masalah sampah ini bersama-sama,” tegasnya.
Kepada pihak perguruan tinggi, Ngatiyana memberikan mandat agar akademisi dan mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai pusat penelitian dan edukasi, tetapi juga wajib menjadi teladan.
“Kampus harus menjadi kawasan bebas sampah berceceran. Dosen dan mahasiswa harus turun langsung ke masyarakat untuk mengedukasi cara mengolah, memilah, hingga mengawasi pengelolaan sampah di lingkungan sekitarnya,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti


