Dampak Penutupan SDN Baros Mandiri 7, Komite Ungkap Risiko Gangguan Mental

Komite sekolah menyebutkan dampak wacarana penutupan SDN Baros Mandiri 7 akan mengganggu mental dan keamanan siswa

Dampak Penutupan SDN Baros Mandiri 7, Komite Ungkap Risiko Gangguan Mental
Para orang tua siswa menolak wacana penutupan SDN Baros Mandiri 7 Cimahi.

INILAHKORAN.ID – Rencana penutupan atau penggabungan SDN Baros Mandiri 7 (BM 7) kembali menuai penolakan keras lantaran dikhawatirkan bakal berdampak terhadap para siswa, mulai dari psikologis, keamanan, dan beban ekonomi yang bakal ditanggung siswa serta orang tua. 

Komite SDN Baros Mandiri 7, Wulan Widhatul Ummah menegaskan, memindahkan siswa secara mendadak dari lingkungan belajar yang sudah nyaman bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan ancaman serius bagi kesehatan mental anak-anak yang kini dikenal memiliki karakter sensitif atau kerap disebut sebagai "generasi stroberi".

"Poin utama keberatan yang disampaikan kepada Dinas Pendidikan, yakni ketidakpastian jaminan perlindungan mental siswa pasca pemindahan," kata Wulan, Jumat (15/5/2026).

Wulan pun mencontohkan kasus nyata di mana seorang siswi berprestasi justru mengambil jalan pintas akibat tekanan dan ejekan di lingkungan sekolah, padahal jenjang pendidikannya sudah di tingkat SMA. 

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dasar kekhawatiran besar, mengingat anak usia dasar jauh lebih rentan terhadap perubahan dan tekanan sosial, termasuk risiko perundungan yang dipastikan akan muncul saat mereka masuk ke lingkungan sekolah baru yang belum mengenal mereka.

"Masalah mental itu tidak semudah mencari nafkah. Kalau ekonomi bisa diperbaiki dengan usaha, namun jika kesehatan mental sudah terganggu, penyembuhannya butuh waktu lama dan sangat sulit," ungkapnya.

"Dinas Pendidikan tidak bisa memberikan jaminan mutlak bahwa anak-anak kami aman dari tekanan atau perundungan nanti," tegasnya.

Wulan menilai, tugas pendidikan bukan hanya mengajarkan akademik, namun juga menanamkan karakter dan kasih sayang yang sudah terbangun erat di sekolah ini.

"Selain aspek psikologis, faktor jarak dan keamanan juga menjadi alasan kuat penolakan. Wacana pemindahan siswa ke SDN Baros Mandiri 3 dianggap mengabaikan kondisi geografis," ujarnya. 

"Termasuk akses jalan yang sebenarnya berjarak sekitar 700 meter, namun tidak bisa ditempuh secara lurus karena harus memutar melewati jalan raya," bebernya.

Bagi warga sekitar, terang Wulan, lokasi SDN BM 7 sangat dekat dan aman, bahkan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Kondisi ini sangat berbeda jika harus pindah lokasi, di mana risiko di jalan menjadi lebih tinggi dan belum tentu ada jaminan keamanan maksimal dari pihak sekolah tujuan.

Tak kalah penting, aspek ekonomi masyarakat setempat juga ikut diperhitungkan. Berdasarkan pemantauan langsung pihak komite, masih banyak warga di lingkungan sekolah yang memiliki keterbatasan ekonomi. 

"Keberadaan sekolah yang dekat sangat membantu menekan biaya pendidikan, mulai dari ongkos transportasi hingga kebutuhan harian. Jika dipindah ke lokasi yang lebih jauh, beban pengeluaran orang tua otomatis akan bertambah berat," ungkapnya. 

"Kenapa kebijakan ini dibuat tanpa melihat kondisi ekonomi warga yang sebenarnya masih banyak berjuang untuk kebutuhan makan sehari-hari. Kami berharap dinas turun langsung dan melihat kenyataan di lapangan," imbuhnya.

Saat ini, lanjut Wulan, SDN Baros Mandiri 7 masih menampung sekitar 230 siswa. Langkah yang kini ditempuh komite dan wali murid, yakni dengan menyebarkan aspirasi lewat media sosial agar pemerintah daerah meninjau ulang kebijakan tersebut. 

"Bagi mereka, mempertahankan keberadaan sekolah bukan sekadar mempertahankan gedung, melainkan menjaga kenyamanan, keamanan, masa depan pendidikan, dan kesehatan mental ribuan anak yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar sekolah ini," tegasnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti