Revitalisasi Rp15 Miliar Berujung Sepi, Pasar Minggu Palimanan Terancam Bangkrut

Pasca direvitalisasi dengan anggaran Bankeu Pemprov Jabar Rp15 miliar Pasar Minggu Palimanan terancam bangkut dan ditinggalkan pedagang

Revitalisasi Rp15 Miliar Berujung Sepi, Pasar Minggu Palimanan Terancam Bangkrut
Para pedagang Pasar Minggu Palimanan tengah mengobrol sambil menunggu konsumen, Senin (27/4/2026). Pascadirevitalisasi pada 2024 lalu, dengan anggaran Rp15 miliar, kondisi pasar sepi dari pembeli bahkan pada pedagang pun banyak yang keluar. Maman Suharman

INILAHKORAN.ID - Nasib Pasar Minggu di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, kian memprihatinkan. Baru direvitalisasi Agustus 2024 dengan anggaran sekitar Rp15 miliar bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kini pasar tersebut justru terancam bangkrut total.

Sejak diresmikan pada awal tahun 2025, aktivitas perdagangan di pasar tersebut mengalami penurunan drastis. Dari sekitar 250 pedagang yang semula berjualan, kini hanya tersisa sekitar 20 pedagang yang masih bertahan.

Sepinya pengunjung disebut-sebut menjadi penyebab utama. Penataan ulang pasar yang memindahkan seluruh kios ke lantai atas, sementara lantai bawah dijadikan area parkir, dinilai tidak efektif menarik minat pembeli.

Salah seorang pedagang, Siti (45), mengaku omzetnya anjlok sejak menempati kios di lantai atas.

“Sejak pindah ke atas, pembeli hampir tidak ada. Dulu di bawah ramai, sekarang sepi sekali,” ujarnya, Senin 27 April 2026.

Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Rahmat (38), yang memilih hengkang dari pasar.

“Kalau terus begini, kami tidak bisa bertahan. Lebih baik cari tempat lain daripada rugi terus setiap hari,” katanya.

Pedangan lainnya mengaku, sebagian kecil mereka memilih tetap bertahan, meski dalam kondisi serba sulit. Mereka umumnya merupakan pedagang emas yang masih memiliki pelanggan tetap.

Sementara itu, belasan pedagang lain memilih turun kembali ke lantai bawah, meskipun area tersebut kini difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan. Mereka nekat berjualan di lokasi tersebut demi bertahan hidup.

“Terpaksa jualan di bawah lagi, walaupun memang melanggar. Di atas benar-benar tidak laku,” kata Ujang (50).

Pantauan di lokasi terlihat, selain persoalan sepinya pembeli, kondisi fisik bangunan juga mulai dikeluhkan. Sejumlah pedagang menyebutkan adanya kebocoran saat hujan, bahkan genangan air di lantai bawah.

“Kalau hujan, air masuk ke dalam. Atas bocor, bawah banjir. Kami makin susah,” keluh Lina.

Pedagang juga mengaku sering menerima kunjungan dari pihak dinas terkait, namun belum ada solusi konkret yang diberikan.

“Sering ada yang datang dari dinas, tapi cuma dengar saja. Paling cuma manggut-manggut, habis itu tidak ada tindak lanjut,” ujar Rahmat.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran Pasar Minggu akan bernasib sama seperti sejumlah proyek lain yang terbengkalai. Jika tidak segera ditangani, ratusan kios yang kosong dikhawatirkan akan semakin rusak seiring waktu.

Para pedagang berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan mengevaluasi kebijakan penataan pasar agar aktivitas ekonomi bisa kembali hidup. 


Editor : Ahmad Sayuti