Ikut Pengajian di Masjid Saat Haid, Bolehkah?
Dalam ajaran Islam, wanita yang sedang mengalami menstruasi atau haid dilarang melakukan ibadah-ibadah tertentu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Dalam ajaran Islam, wanita yang sedang mengalami menstruasi atau haid dilarang melakukan ibadah-ibadah tertentu. Namun bagaimana jika wanita tersebut hendak mengikuti pengajian yang mengharuskan dirinya berdiam diri di dalam masjid. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Bahjah, Cirebon, KH Yahya Zainal Ma'arif atau Buya Yahya, menjelaskan, mayoritas ulama atau jumhur ulama dari empat madzhab bersepakat bahwa wanita yang dalam keadaan haid tidak diperkenankan untuk berdiam diri di dalam masjid. Keempat madzhab itu adalah, madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
“Kalau sekedar masuk tidak apa-apa, misalnya anaknya ke dalam lalu diambil atau dia wanita yang suka melayani di masjid dia masuk ngambil barang, itu boleh, yang gak boleh itu tinggal atau berdiam di masjid,” ujar Buya Yahya lewat akun Youtube Al- Bahjah TV, dilihat pada Selasa 1 Februari.
Baca Juga: Pergi Liburan, Ini Doa Sebelum dan Pulang Bepergian
Dalam Mazhab Maliki dan Hanafi, perempuan yang sedang haid tidak boleh berdiam diri atau sekadar melewati bagian dalam masjid. Hukum tidak diperkenankannya wanita yang sedang menstruasi berdiam diri di masjid itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah.
ÙÙØ¹ÙÙ٠أÙÙ Ù٠سÙÙÙÙ ÙØ©Ù ÙÙØ§ÙÙØªÙ : Ø¯ÙØ®ÙÙÙ Ø±ÙØ³ÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ – صÙ٠اÙÙ٠عÙÙÙ ÙØ³ÙÙ – ØµÙØ±ÙØÙة٠ÙÙØ°Ùا اÙÙÙ ÙØ³ÙØ¬ÙØ¯Ù ÙÙÙÙØ§Ø¯ÙÙ Ø¨ÙØ£ÙعÙÙÙ٠صÙÙÙØªÙÙÙ : « Ø¥ÙÙ٠اÙÙÙ ÙØ³ÙØ¬ÙØ¯Ù ÙØ§ ÙÙØÙÙÙÙ ÙÙØÙØ§Ø¦Ùض٠ÙÙÙØ§ ÙÙØ¬ÙÙÙØ¨Ù » . رÙÙÙØ§Ù٠ابÙÙÙ Ù ÙØ§Ø¬ÙÙÙ
Artinya: “Diriwayatkan dari Ummi Salamah, beliau berkata: “Rasulluah SAW pernah masuk ke halaman masjid, kemudian beliau bekata dengan sangat keras: “Sesungguhnya masjid tidak halal bagi orang yang haid dan orang yang junub.” (HR Ibnu Majah).
Kemudian di dalam mazhab Syafi’i dan Hanbali, wanita yang sedang haid dan nifas boleh sekedar melewati atau bukan berdiam diri masjid jika memang darahnya tidak mengotori masjid. Mereka mengqiyaskan atau menyamakan keharaman orang yang sedang haid dengan orang junub untuk mendekati masjid. Wanita yang sedang haid ianggap lebih berat daripada junub.
Baca Juga: Bulan Rajab Datang, Ini Doanya Supaya Diberi Rahmat Berlimpah
ÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙØ°ÙÙÙ٠آÙ
ÙÙÙÙØ§ ÙÙØ§ تÙÙÙØ±ÙبÙÙØ§ Ø§ÙØµÙÙÙÙØ§Ø©Ù ÙÙØ£ÙÙÙØªÙÙ
٠سÙÙÙØ§Ø±ÙÙ ØÙتÙÙÙ ØªÙØ¹ÙÙÙÙ
ÙÙØ§ Ù
ÙØ§ تÙÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ§ جÙÙÙØ¨Ùا Ø¥ÙÙÙÙØ§ Ø¹ÙØ§Ø¨ÙرÙÙ Ø³ÙØ¨ÙÙÙÙ ØÙتÙÙÙ ØªÙØºÙØªÙØ³ÙÙÙÙØ§
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (An-Nisa’: 43).
Namun ada beberapa ulama yang berpendapat, seorang wanita yang tengah haid boleh berdiam diri di masjid. Salah satunya Imam al-Mahalliy. Menurutnya yang dimaksud ayat (An-Nisa’: 43) di atas adalah larangan sholat kepada orang junub bukan mendatangi tempat sholat (masjid).
Kemudian juga pendapat Imam Dawud al-Dzahiri dan al-Muzani. Keduanya memperbolehkan perempuan yang Haid masuk ke dalam masjid secara mutlak.***
Editor : inilahkoran


