Ruang Baru Kota Bandung
Bagi warga yang biasa melintas di kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, perubahan mulai terasa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Bagi warga yang biasa melintas di kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, perubahan mulai terasa.
Jalur yang selama ini menjadi penghubung langsung di Jalan Diponegoro kini perlahan berganti wajah, seiring rencana menyatukan dua ruang ikonik Kota Bandung tersebut.
Halaman depan Gedung Sate akan diintegrasikan dengan Lapangan Gasibu. Penataan kawasan ini membuat Jalan Diponegoro yang selama ini menjadi pembatas kedua area tersebut ditutup secara permanen.
Perubahan itu membawa konsekuensi baru bagi pengguna jalan. Warga yang sebelumnya dapat melintas lurus dari arah Jalan Supratman kini harus menyesuaikan rute melalui Jalan Sentot Alibasyah, melewati ruas jalan baru di sekitar Flyover Pasupati, kemudian menuju Jalan Majapahit sebelum kembali terhubung dengan Jalan Diponegoro.
Sementara dari arah berlawanan, kendaraan akan diarahkan melalui Jalan Majapahit menuju Jalan Pasupati, lalu masuk ke Jalan Sentot Alibasyah bagi yang hendak menuju kawasan Jalan Supratman.
Perubahan jalur tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan yang dirancang untuk menghadirkan ruang publik lebih luas dan terintegrasi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai perubahan akses lalu lintas itu justru memberikan kenyamanan baru bagi masyarakat.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, kekhawatiran masyarakat terkait penutupan Jalan Diponegoro mulai berkurang setelah warga mencoba langsung jalur pengganti yang telah disiapkan.
"Yang protes yang di mana? Perasaan sekarang sudah nggak protes deh. Protes dulu-dulu, ketika asumsinya jalan ditutup, tetapi ketika sekarang jalan melingkar dan lebih nyaman," ujar Dedi, Kamis (16/7).
Menurut Dedi, perubahan rute tersebut tidak membuat akses menjadi lebih sulit. Bahkan, ia mengaku telah beberapa kali mencoba langsung jalur baru untuk memastikan kelancaran perjalanan.
"Justru sekarang tuh akses dari Diponegoro ke Pasupati enggak usah muter lagi. Jadi perasaan sudah nyaman deh. Saya udah tiga kali lewat situ sekarang," katanya.
Penutupan Jalan Diponegoro bukan sekadar perubahan arus kendaraan. Di baliknya, ada upaya mengubah wajah kawasan pusat Kota Bandung, dari dua ruang yang terpisah menjadi satu ruang publik yang lebih menyatu. (gin)
Editor : Inilahkoran

