Rumahnya Hancur Terdampak Pergerakan Tanah, Ratusan Warga Cigombong Kini Mengungsi
Nasib pilu tengah menyelimuti warga Kampung Cigombong RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat yang terpaksa harus mengungsi lantaran rumah yang mereka tempati selama ini rusak parah akibat bencana pergerakan tanah yang terus terjadi sejak 19 Februari 2024 lalu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Nasib pilu tengah menyelimuti warga Kampung Cigombong RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat yang terpaksa harus mengungsi lantaran rumah yang mereka tempati selama ini rusak parah akibat bencana pergerakan tanah yang terus terjadi sejak 19 Februari 2024 lalu.
Pemerintah Desa Cibedug mencatat sebanyak 48 Kepala Keluarga (KK) dengan 192 jiwa. Mereka terpaksa mengungsi lantaran rumahnya rusak dan terancam pergerakan tanah di dua RT di RW 13.
"Hingga pukul 13.00 WIB sudah 48 KK yang berisi 192 jiwa yang dievakuasi ke Islamic Center Kecamatan. Warga itu berasal dari dua RT 03 dan 04 yang terdampak," kata Kepala Desa Cibedug, Engkus Kustendi, Kamis 29 Februari 2024.
Engkus menjelaskan, bencana pergerakan tanah itu sudah terjadi sejak pekan lalu dan hingga kini sudah merusak 10 bangunan dengan rincian 8 bangunan rumah, 1 bangunan sekolah dan 1 bangunan Posyandu.
"Sedangkan puluhan rumah lainnya terancam rusak susulan karena pergerakan tanah terus terjadi setiap hari," jelasnya.
Oleh karena itu, sambung Engkus, untuk keamanan dan keselamatan, semua warga yang terdampak harus mengungsi sementara.
Pihaknya bersama kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) sudah menyiapkan dapur umum.
"Pergerakan tanah jarak setengah jam berubah terus. Semua yang terancam
Ada 8 hancur 9 sama sekolah dan Posyandu ambruk," ujarnya.
Selain merusak bangunan, sebut Engkus, bencana pergerakan tanah juga membelah jalan desa sehingga menghambat mobilitas warga. Di antaranya jalan yang berada di sekitar SDN 1 Babakan Talang yang bangunannya sudah ambruk.
"Di titik tersebut, jalan sama sekali sudah tidak bisa dilewati baik kendaraan maupun orang karena sudah amblas tergerus pergerakan tanah," sebutnya.
Pihak desa bersama masyarakat bersama-sama membuat jalan alternatif agar tidak terlalu menghambat mobilitas.
"Jalan kampungnya juga ambles, jadi kendaraan tidak bisa lewat. Sekarang warga membuat jalur alternatif," tukasnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana

