Sampah Kabupaten Cirebon Capai 1.260 Ton per Hari, Armada Pengangkut Masih Terbatas

Produksi sampah Kabupaten Cirebon mencapai 1.260 ton per hari. DLH menghadapi keterbatasan armada dan kapasitas TPA Gunung Santri yang overload.

Sampah Kabupaten Cirebon Capai 1.260 Ton per Hari, Armada Pengangkut Masih Terbatas
Aktivitas pengangkutan sampah di TPA Gunung Santri. Keterbatasan armada dan tingginya volume sampah menjadi tantangan dalam penanganan sampah setiap hari di Kabupaten Cirebon.

INILAHKORAN.ID– Persoalan Sampah di Kabupaten Cirebon semakin kompleks. Produksi Sampah yang mencapai sekitar 1.200 hingga 1.260 ton per hari belum sebanding dengan kemampuan pengangkutan maupun kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) yang tersedia.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon Suyanto mengatakan, dua TPA yang saat ini menjadi tumpuan pengelolaan Sampah di Kabupaten Cirebon menghadapi persoalan berbeda.

Untuk wilayah timur, TPA Kubangdeleg di Kecamatan Karangwareng hanya menerima sekitar 100 ton Sampah per hari. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan armada pengangkut.

Menurut Suyanto, wilayah pelayanan TPA Kubangdeleg mencakup 18 kecamatan. Namun, armada yang tersedia hanya sekitar 20 kendaraan.

“Untuk Kubangdeleg, Sampah yang masuk sekitar 100 ton per hari. Salah satu kendalanya memang kendaraan. Armada yang ada hanya sekitar 20 kendaraan, sementara harus melayani 18 kecamatan,” kata Suyanto, Senin (21/9/2026).

TPA Gunung Santri Sudah Overload

Kondisi berbeda terjadi di TPA Gunung Santri yang melayani wilayah barat Kabupaten Cirebon.

Volume Sampah yang masuk ke TPA tersebut jauh lebih besar, yakni mencapai sekitar 250 ton per hari. Besarnya volume Sampah tersebut tidak terlepas dari jumlah armada pengangkut yang melayani wilayah barat.

Suyanto menyebut jumlah armada yang beroperasi menuju Gunung Santri sekitar dua kali lipat dibandingkan armada di wilayah timur.

Namun, kondisi tersebut justru membuat beban TPA Gunung Santri semakin berat. Saat ini, TPA tersebut telah mengalami kelebihan kapasitas atau overload.

“Kalau Gunung Santri memang sudah overload. Sampah yang masuk bisa sekitar 250 ton per hari karena jumlah kendaraannya juga lebih banyak, sekitar dua kali lipat dibandingkan wilayah Kubangdeleg,” ujarnya.

DLH Kabupaten Cirebon sebelumnya juga telah mengakui persoalan kapasitas di TPA Gunung Santri. TPA tersebut diketahui telah beroperasi selama lebih dari 15 tahun dan kini mendekati kondisi kelebihan kapasitas.

Pengolahan Sampah di Kubangdeleg Belum Terealisasi

Persoalan di TPA Kubangdeleg tidak hanya berkaitan dengan jumlah Sampah yang masuk. Pemerintah daerah sebenarnya telah memiliki rencana untuk mengembangkan sistem pengolahan Sampah di lokasi tersebut.

Dengan sistem pengolahan, Sampah diharapkan tidak hanya ditumpuk atau dibuang ke TPA.

Namun, Suyanto mengatakan rencana tersebut hingga kini belum terealisasi dan masih berada pada tahap perencanaan.

“Ada rencana pengolahan Sampah di Kubangdeleg, tetapi sekarang masih dalam tahap rencana,” katanya.

Suyanto menjelaskan kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan pengelolaan Sampah di Kabupaten Cirebon.

Dengan produksi Sampah mencapai sekitar 1.200 hingga 1.260 ton per hari, Sampah yang masuk ke TPA Kubangdeleg hanya sekitar 100 ton per hari. Sementara itu, TPA Gunung Santri menerima sekitar 250 ton per hari.

"Artinya, masih terdapat volume Sampah dalam jumlah besar yang harus ditangani melalui sistem lainnya ataupun belum terangkut secara optimal," jelas Suyanto.

Kebutuhan Armada Mencapai 120 Unit

Menurut Suyanto, keterbatasan sarana menjadi salah satu persoalan utama dalam pengangkutan Sampah di Kabupaten Cirebon.

Saat ini, DLH Kabupaten Cirebon tercatat memiliki sekitar 65 armada pengangkut. Jumlah tersebut masih jauh di bawah kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 120 unit.

Kondisi itu membuat persoalan Sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah ritase kendaraan yang sudah tersedia.

"Pemerintah daerah harus berpacu dengan produksi Sampah setiap hari, keterbatasan kendaraan, kapasitas TPA hingga belum terealisasinya fasilitas pengolahan Sampah," akunya.

Suyanto menambahkan, apabila kapasitas pengolahan Sampah tidak segera diperkuat, beban terhadap dua TPA tersebut akan terus bertambah.

Pasalnya, produksi Sampah masyarakat berlangsung setiap hari dan cenderung membutuhkan dukungan sistem pengangkutan, pengolahan, serta tempat pemrosesan akhir yang memadai.***


Editor : JakaPermana