'Sawit Academy UB' Luruskan Isu Sawit lewat Pendekatan Akademis Berbasis Data

Hai Sawit Indonesia bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya menghadirkan diskusi ilmiah melalui Sawit Academy Episode Universitas Brawijaya.

'Sawit Academy UB' Luruskan Isu Sawit lewat Pendekatan Akademis Berbasis Data
Hai Sawit Indonesia bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya kembali menghadirkan ruang diskusi ilmiah melalui Sawit Academy Episode Universitas Brawijaya (UB). (Istimewa)

INILAHKORAN.ID - Hai Sawit Indonesia bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya kembali menghadirkan ruang diskusi ilmiah melalui Sawit Academy Episode Universitas Brawijaya (UB), belum lama ini.

Kegiatan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut menghadirkan materi akademis komprehensif guna memperkuat literasi generasi muda mengenai industri kelapa sawit.

Salah satu materi utama disampaikan Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Dr Ir Yanto Santosa, DEA., melalui paparan berjudul “Dari Tuduhan Menuju Pemahaman: Meluruskan Isu Sawit melalui Pendekatan Akademik dan Berbasis Data.”

Dalam pemaparannya, Prof Yanto mengulas berbagai isu lingkungan yang kerap dikaitkan dengan industri sawit Indonesia, seperti tudingan konversi hutan primer, penurunan keanekaragaman hayati, hingga anggapan bahwa sawit menjadi pemicu utama deforestasi global.

Dia menegaskan, definisi deforestasi perlu dipahami secara tepat sesuai standar lembaga internasional seperti FAO, World Bank, serta regulasi nasional. Deforestasi didefinisikan sebagai perubahan permanen kawasan berhutan menjadi nonhutan akibat aktivitas manusia.

Karena itu, menurutnya, setiap klaim mengenai deforestasi harus dilihat melalui kajian ilmiah yang mempertimbangkan status lahan, riwayat penggunaan lahan, serta kondisi tutupan hutan sebelum kawasan tersebut dikonversi menjadi perkebunan.

Melalui perbandingan data laju deforestasi dan perluasan kebun sawit di berbagai wilayah, Prof Yanto menjelaskan, tidak seluruh pengembangan perkebunan sawit berasal dari hutan primer. 

Sejumlah kajian historis tata guna lahan menunjukkan banyak perkebunan sawit berkembang di lahan terdegradasi atau lahan bekas penggunaan lain.

Dia juga mengutip kajian Komisi Eropa tahun 2013 yang menunjukkan bahwa dari total sekitar 239 juta hektare deforestasi global pada periode 1990–2008, sekitar 58 juta hektare disebabkan oleh sektor peternakan, 13 juta hektare oleh kedelai, dan 8 juta hektare oleh jagung.

“Sementara itu, kontribusi sawit sekitar 6 juta hektare atau kurang lebih 2,5 persen dari total deforestasi global. Artinya, posisi sawit perlu dilihat secara proporsional dalam konteks deforestasi global, berbasis data, bukan sekadar persepsi,” jelas Prof Yanto dalam keterangan persnya.

Dia menambahkan, perubahan fungsi hutan juga dipengaruhi oleh faktor historis dan kebijakan masa lalu, seperti program transmigrasi maupun konsesi kehutanan. 

Karena itu, menyederhanakan persoalan dengan hanya menyalahkan sawit dinilai tidak mencerminkan kompleksitas tata guna lahan di Indonesia.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa, terutama terkait isu keberlanjutan, keanekaragaman hayati, dan tantangan global industri sawit.

Melalui kegiatan Sawit Academy Episode Universitas Brawijaya ini, Hai Sawit Indonesia didukung BPDP terus mendorong hadirnya ruang diskusi ilmiah di lingkungan kampus sebagai upaya memperkuat literasi sawit yang objektif, kritis, dan berimbang. ***


Editor : Gin gin T Ginulur