SDIT Tunas Harapan Hentikan Program MBG, Yayasan Soroti Menu dan Nilai Gizi
SDIT Tunas Harapan di Rancaanyar Kabupaten Bandung menghentikan program MBG mulai 28 September 2026. Yayasan menyoroti menu dan nilai gizi makanan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-SDIT Tunas Harapan yang berlokasi di Rancaanyar, Kabupaten Bandung, memutuskan menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai Senin (28/9/2026).
Keputusan tersebut diambil pihak Yayasan Tunas Harapan setelah berkoordinasi dengan orang tua murid dan kepala sekolah.
Pemilik Yayasan Tunas Harapan, Abah Odin, mengatakan penghentian program MBG dilatarbelakangi sejumlah persoalan, terutama terkait menu dan nilai gizi makanan yang diterima siswa.
Menurutnya, menu yang disediakan dinilai tidak sebanding dengan alokasi anggaran sebesar Rp10.000.
“Nilai gizi tidak sesuai dengan jumlah yang Rp10.000. Yang kedua, orang tua murid juga menolaknya karena menu makanan tidak layak dimakan,” ujar Abah Odin dalam wawancara, Jumat (25/9/2026).
Ia menjelaskan, makanan yang diterima siswa dalam satu hari dinilai sangat minim. Berdasarkan keterangannya, menu tersebut antara lain satu buah roti kecil, satu buah pisang, dua buah tahu, dan satu potong kecil rolade ayam kering.
Abah Odin mengatakan pihak yayasan memperkirakan nilai makanan tersebut tidak sampai Rp6.000.
“Itu benar-benar tidak bergizi sangatlah. Intinya tidak sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh negara atau pemerintah,” katanya.
Keluhan terhadap menu tersebut, lanjut Abah Odin, juga disampaikan oleh sejumlah orang tua murid. Mereka menilai makanan yang diberikan tidak sesuai dengan harapan terhadap program MBG.
Setelah menerima keluhan tersebut, pihak yayasan kemudian melakukan koordinasi bersama komite sekolah dan orang tua murid.
Dari hasil koordinasi tersebut, disepakati penghentian penyaluran MBG di SDIT Tunas Harapan.
Penghentian program tersebut mulai berlaku pada Senin (28/9/2026).
Pihak yayasan menyatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan dan kondisi para siswa yang menjadi penerima program.***
Editor : JakaPermana

