Seni Rupa Diprediksi Masih akan Stagnan

INILAH, Jakarta - Minimnya sarana pendukung kegiatan seni rupa seperti sekolah, museum, media, dan kritikus membuat kegiatan tersebut diprediksi akan stagnan di masa mendatang.

Seni Rupa Diprediksi Masih akan Stagnan
Seni rupa diprediksi stagnan di masa mendatang
INILAH, Jakarta - Minimnya sarana pendukung kegiatan seni rupa seperti sekolah, museum, media, dan kritikus membuat kegiatan tersebut diprediksi akan stagnan di masa mendatang.
 
Kritikus seni rupa Bambang Bujono mengatakan, hal ini disebabkan karena kajian akademis tentang seni rupa minim publikasi. Sehingga tidak ada ruang bagi generasi muda untuk mengenal seni rupa dan juga karena seni rupa tidak berjalan linear.
 
Padahal seni rupa Indonesia pernah “booming” di era 80-an. Hal itu terlihat pada bertumbuhnya galeri dan museum pribadi yang kemudian memunculkan para kolektor lukisan, kegiatan art fair serta inisiatif pribadi untuk berkiprah di gelanggang global.
 
Namun, disayangkan pria yang akrab dipanggil Bambu itu, pasar seni rupa Indonesia cenderung pemilih. Jual beli lukisan pada karya-karya lama dari Affandi, Hendra Gunawan, Sudjojono, Basuki Abdullah dan Widayat.
 
“Hal itu mungkin dirangsang oleh koleksi Bung Karno dan istana. Sekarang lebih berkembang lewat koleksi kontemporer karya Kelompok Jendela, Masriadi, Heri Dono dan Entang Wiharso,” tuturnya
 
Bambu mengaku perkembang seni rupa mencapai puncak saat digelar Jakarta Biennale pada 1993 yang menyuguhkan perkembangan mutakhir seni rupa yang tidak diminati pasar. Perkembangan itu bisa menampilkan seni rupa Indonesia di mata dunia. 
 
“Bisakah dunia serupa kita mencapai kejayaan itu,” katanya dalam diskusi Refleksi dan Proyeksi Seni Rupa Indonesia 2018-2019” di Balai Budaya Jakarta, Rabu (19/12/2018).
 
Sementara Bonnie Triyana mengatakandinamika praktek, pergerakan serta perkembangan seni rupa Tanah Air sedikit banyak telah memberi inspirasi sekaligus pembelajaran bagi para seniman (perupa), pemerintah, pengamat dan kritikus serta pecinta seni rupa.
 
“Dengan kata lain, inspirasi dan pembelajaran ini menjadi salah satu “modal” bagi seniman, pemerintah, pengamat dan semua kalangan untuk membaca seni rupa masa lalu menuju seni rupa masa depan yang lebih bergairah serta berkualitas lagi,” ujarnya. 


Editor : inilahkoran