Senjakala Parkir Elektronik: Mesin Mati, QRIS Menanti

MESIN parkir elektronik perlahan menghilang dari sudut-sudut Kota Bandung. Sebagai gantinya, sistem pembayaran digital mulai disiapkan.

Senjakala Parkir Elektronik: Mesin Mati, QRIS Menanti
PARKIR ELEKTRONIK: Salah satu mesin parkir elektronik di Kota Bandung. Kini, separuh mesin parkir elektronik sudah tidak lagi beroperasi. Dari sekitar 400 unit yang sebelumnya dipasang di sejumlah titik, hanya sekitar 200 unit yang masih berfungsi. Dishub Kota Bandung pun, mulai menyiapkan sistem parkir baru berbasis pembayaran digital menggunakan QRIS sebagai solusi jangka panjang.

Membayar parkir dengan mesin elektronik sempat menjadi simbol modernisasi layanan di Kota Bandung. Namun kini, pemandangan itu mulai jarang ditemui.

Dari ratusan mesin parkir yang pernah dipasang di berbagai sudut kota, hanya separuh yang masih bertahan beroperasi.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kota Bandung mulai menyiapkan babak baru. Sistem parkir berbasis mesin perlahan akan digantikan dengan pembayaran digital menggunakan QRIS yang terhubung langsung ke perangkat genggam milik petugas parkir.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Rasdian Setiadi mengungkapkan, dari sekitar 400 mesin parkir elektronik yang pernah terpasang, kini hanya sekitar 200 unit yang masih berfungsi.

Menurutnya, berkurangnya jumlah mesin bukan terjadi secara tiba-tiba. Persoalan bermula ketika kerja sama antara Pemkot Bandung dan perusahaan penyedia mesin parkir berakhir beberapa tahun lalu.

"Perangkat yang masih bisa beroperasi saat ini tinggal sekitar setengah dari jumlah awal. Setelah kerja sama dengan penyedia selesai, proses pemeliharaan menjadi tidak optimal karena dukungan dari vendor sudah tidak ada lagi," kata Rasdian, Kamis (16/7). 

Persoalan semakin rumit karena perusahaan penyedia mesin parkir tersebut kini sudah tidak lagi beroperasi. Akibatnya, ketika mesin mengalami kerusakan, Dishub kesulitan memperoleh suku cadang untuk melakukan perbaikan.

"Masalah terbesarnya ada pada ketersediaan suku cadang. Karena perusahaan penyedianya sudah tidak beroperasi, komponen pengganti sangat sulit ditemukan sehingga tidak semua mesin bisa kembali difungsikan," ujarnya.

Meski demikian, layanan parkir tetap berjalan. Dishub masih mengoptimalkan mesin yang kondisinya dinilai layak sambil menyiapkan sistem pengganti yang dinilai lebih praktis dan mengikuti kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan pembayaran digital.

Tahap awal pembaruan itu dimulai melalui uji coba pembayaran parkir menggunakan QRIS. Dalam skema baru tersebut, petugas parkir akan membawa perangkat handheld untuk mencatat kendaraan yang masuk. Seluruh proses transaksi dilakukan secara digital.

"Sebagai langkah pembaruan, kami mulai menguji coba pembayaran parkir menggunakan QRIS yang terintegrasi dengan perangkat handheld yang dibawa petugas parkir. Sistem tersebut kami rancang menggantikan ketergantungan pada mesin parkir elektronik yang sudah banyak mengalami kendala," tutur Rasdian.

Melalui perangkat itu, waktu kendaraan masuk dan keluar akan tercatat secara otomatis. Lama parkir pun langsung dihitung sistem sehingga besaran tarif dapat ditentukan sesuai durasi penggunaan lahan parkir.

"Dengan sistem ini, proses pencatatan menjadi lebih sederhana. Lama parkir kendaraan langsung terbaca sehingga tarif yang harus dibayar dapat dihitung secara otomatis sesuai durasi parkir," jelasnya.

Bagi pengguna jasa parkir, perubahan ini bukan hanya soal cara membayar. Dishub berharap sistem digital mampu menghadirkan pelayanan yang lebih transparan. Setiap transaksi akan disertai bukti pembayaran yang tercetak secara otomatis sehingga masyarakat memiliki kepastian mengenai tarif yang dibayarkan.

"Dengan pencatatan yang lebih akurat, kami berharap pelayanan parkir di Kota Bandung menjadi lebih tertib, transparan, dan mengikuti perkembangan sistem pembayaran digital yang semakin banyak digunakan masyarakat," tegas Rasdian. (Yogo Triastopo/gin)


Editor : Inilahkoran