Senyum Pahit Jurgen Klopp
RIUH rendah di WWK Arena perlahan surut, berganti dengan langkah kaki ribuan suporter yang bergegas pergi sebelum peluit panjang berbunyi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
Wajah-wajah lesu di tribun tak mampu menyembunyikan kekecewaan. Malam itu, Senin (28/9) dini hari WIB, publik Jerman dipaksa menyaksikan momen yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya: raksasa Die Mannschaft tak berkutik di kandang sendiri, tumbang 0-1 di tangan Yunani.
Bagi Yunani, gol Dimitrios Kourbelis di menit ke-74 adalah guratan sejarah baru—kemenangan pertama mereka atas Jerman sepanjang masa. Namun bagi Jerman, kekalahan ini terasa seperti tamparan keras di wajah sang nakhoda baru, Juergen Klopp.
Eks manajer ikonik Liverpool ini berdiri di pinggir lapangan dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Alih-alih merayakan debut kandang yang manis, ia justru harus menyaksikan timnya membentur tembok pertahanan lawan yang kokoh.
Ketika tembakan Kourbelis berbelok arah setelah membentur kaki Joshua Kimmich dan masuk ke gawang Jerman, seisi stadion terhenyak.Usai laga, Klopp tidak mencari kambing hitam.
Dengan kedewasaan seorang mentor yang telah kenyang asam garam kehidupan lapangan hijau, ia merengkuh kekalahan itu sebagai tanggung jawab pribadinya yang mutlak.
"Saya tidak menyangka, tetapi saya juga tidak terkejut mereka bisa mencetak gol di akhir pertandingan," ucap Klopp.
Alih-alih panik oleh tekanan publik atau bayang-bayang statistik buruk—yang mencatat dirinya sebagai salah satu pelatih dengan start awal terberat dalam sejarah Jerman—Klopp memilih melihatnya dari kacamata kemanusiaan yang bijak.
"Saya sama sekali tidak terpengaruh oleh kekalahan ini. Dalam hidup, saya sudah kalah jauh lebih banyak pertandingan daripada yang saya inginkan," akunya jujur.
Di balik reputasi besarnya, ia tetaplah manusia biasa yang akrab dengan kegagalan.
"Selama kita bisa mengambil kesimpulan yang tepat dari kekalahan ini, pada akhirnya ini adalah informasi yang sama baiknya dengan sebuah kemenangan." Bagi Klopp, sepak bola adalah tentang manusia dan proses. Eksperimen formasi dan rotasi besar-besaran yang ia lakukan memang berisiko tinggi, namun ia sadar betul bahwa membangun kembali identitas timnas Jerman tidak bisa dilakukan hanya dalam semalam.
Di balik pahitnya malam di Augsburg, Klopp sedang menanam benih kesabaran. Ia meminta para pendukung untuk tidak kehilangan keyakinan, karena dari reruntuhan kekalahan inilah, fondasi mental Die Mannschaft yang baru sedang diuji untuk bangkit lebih kuat. (bsf)
Editor : Inilahkoran

