Setop Beri Anak Gadget, Mari Bacakan Buku

INILAH, Bukittinggi - Teknologi berbasis digital tengah merambahi di hampir kegiatan masyarakat. Ada banyak dampak negatif. Salah-satunya terhadap perkembangan anak.

Setop Beri Anak Gadget, Mari Bacakan Buku
Membaca buku sangat bermanfaat bagi pertumbuhan anak
INILAH, Bukittinggi - Teknologi berbasis digital tengah merambahi di hampir kegiatan masyarakat. Ada banyak dampak negatif. Salah-satunya terhadap perkembangan anak.
 
Berbungkus gawai dengan berbagai fungsi, perkembangan teknologi kini telah mampu menunjang pekerjaan orang banyak. Salah satunya, membantu pekerjaan orang tua dalam menenangkan si buah hati yang rewel di saat mereka tengah sibuk sendiri-sendiri. 
 
Kebiasaan menyerahkan urusan menenangkan anak yang rewel dengan memanfaatkan gawai tentu akan berdampak buruk bagi mereka. 
 
Bukan hanya menghambat tumbuh kembang fisik mereka tetapi juga membuat jurang pemisah antara anak dengan orangtuanya. Hal ini tidak kalah berbahaya. 
 
Sejatinya, kedekatan antara orang tua dengan anak begitu mudah dilakukan. Salah satunya dengan menghabiskan waktu minimal selama 15 menit untuk membaca bersama.
 
Rupanya manfaat membaca buku ini sangat banyak bagi perkembangan anak baik dari pertumbuhan otak, kreativitas, dan kepercayaan dirinya. 
Kepala sekolah Taman Kanak-Kanak Tunas Bangsa Bukittinggi, Sumatera Barat, Eva Wati mengatakan jika orang tua dan anak membaca bersama maka secara langsung sekaligus mengajarkan buah hati mengenali kosa kata. 
 
Selain itu juga akan menstimulus otak dan mengasah kreativitas anak saat dia menceritakan kembali isi buku yang dibaca bersama orangtuanya. Eva berniat mengembalikan kebiasaan dahulu dalam membangun hubungan antara orang tua dengan anak dalam konteks tumbuh kembang buah hati. 
 
"Biasanya TK Tunas Bangsa akan meminta sang anak untuk menceritakan kembali isi buku yang dibacakan sebelumnya di hadapan teman-temannya. Untuk melatih kepercayaan diri mereka juga," kata Eva kepada wartawan ditemui di kantornya, Bukittinggi, Selasa (27/11).
 
Pendampingan dan pembimbingan pun perlu dilakukan orang tua kepada anaknya yang berkebutuhan khusus. Sebab tidak sedikit dari mereka yang justru menyimpan kelebihan yang sangat istimewa dibandingkan dengan anak-anak lainnya. 
 
Namun akan lebih baik jika orang tua juga membiarkan anaknya yang berkebutuhan khusus untuk bergaul di sekolah inklusif. Sehingga dia bisa belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya dan mengejar ketertinggalan yang selama ini dimilikinya seperti telat berbicara atau telat berjalan. 
 
"Kami pernah menerima siswa berkebutuhan khusus, umur tiga tahun tidak bisa berjalan, berbicara, dan bahkan melihat. Alhamdulillah setelah sekolah dan terapi selama satu tahun sudah bisa berjalan dan berbicara, bahkan dia juara tiga lomba adzan di Sumatera Barat," kata Eva. 


Editor : inilahkoran