Siap Jadi Pusat Industri Dirgantara: Dari Kertajati untuk Negeri

KERTAJATI bersiap terbang lebih tinggi. Dari bandara menuju pusat industri dirgantara masa depan.

Siap Jadi Pusat Industri Dirgantara: Dari Kertajati untuk Negeri
BABAK BARU: Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka memasuki babak baru. Tak lagi ditempatkan sebagai infrastruktur transportasi udara, melainkan sebagai kawasan industri dirgantara terpadu, yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat. Transformasi tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU antara PTDI dan PT BIJB.

Selama ini, Bandar Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dikenal sebagai pintu gerbang perjalanan udara Jawa Barat.

Namun, ke depan, bandara di Kabupaten Majalengka itu diproyeksikan memiliki peran yang jauh lebih besar: menjadi pusat industri dirgantara yang membawa ekonomi baru bagi daerah.

Transformasi tersebut mulai memasuki babak penting setelah PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT BIJB menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Jakarta, Rabu (15/7). Kesepakatan itu menjadi langkah awal membangun ekosistem industri kedirgantaraan nasional di kawasan Kertajati.

Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, langkah ini bukan sekadar upaya menghidupkan aktivitas bandara. Lebih dari itu, Kertajati disiapkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menarik investasi berteknologi tinggi sekaligus memperkuat posisi Kawasan Rebana sebagai kawasan industri masa depan.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat sekaligus Komisaris PT BIJB Dedi Taufik mengatakan, kolaborasi PTDI dan BIJB menjadi momentum untuk mengubah wajah Kertajati dari kawasan transportasi menjadi sentra industri strategis.

"Dukungan dan arahan Bapak Gubernur Dedi Mulyadi sangat jelas, yakni menjadikan Kertajati sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru Jawa Barat. Karena itu, kami terus mengakselerasi berbagai kerja sama strategis agar kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai bandara, tetapi juga berkembang menjadi pusat investasi industri berteknologi tinggi," ujar Dedi, Kamis (16/7). 

Rencana pengembangan kawasan industri dirgantara itu mencakup berbagai sektor. Mulai dari fasilitas perawatan, perbaikan, dan overhaul pesawat (maintenance, repair and overhaul/MRO), pusat uji terbang (flight test center), manufaktur pesawat, hingga pengembangan teknologi pesawat tanpa awak atau drone.

Dengan luas pengembangan sekitar 180 hektare, kawasan tersebut memiliki modal besar untuk tumbuh. Letaknya yang terhubung dengan Tol Cisumdawu, Bandara Kertajati, serta Pelabuhan Patimban menjadikannya memiliki akses strategis dalam rantai logistik nasional.

Tak hanya menghadirkan aktivitas industri, pengembangan ini juga diharapkan menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas. 

Kehadiran industri dirgantara diyakini mampu membuka lapangan kerja baru, memperkuat sektor manufaktur, mendorong pendidikan vokasi, hingga membuka ruang bagi riset dan inovasi teknologi.

"Kami optimistis, investasi baru akan mendorong lahirnya lapangan kerja, memperkuat rantai pasok global, sekaligus menjadikan Jawa Barat sebagai pusat industri teknologi tinggi di Indonesia," kata Dedi.

Pengembangan Kertajati juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebelumnya menyebut pengembangan BIJB Kertajati sebagai salah satu agenda prioritas.

Menurut AHY, pemerintah tengah menyiapkan skenario jangka panjang agar Kertajati tidak hanya bergantung pada aktivitas penerbangan, tetapi berkembang menjadi pusat industri strategis nasional.

"Salah satu yang menjadi agenda prioritas di awal terbentuknya Kemenko ini adalah bagaimana kita bisa menghadirkan solusi yang baik untuk Kertajati," ujarnya.

Selain pengembangan fasilitas MRO melalui kerja sama BIJB Kertajati dan GMF, pemerintah juga mendorong terbentuknya kawasan industri dirgantara yang mampu menarik investor dalam negeri maupun mancanegara.

Sementara itu, Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan memastikan langkah awal transformasi tersebut segera berjalan. PTDI akan mulai memindahkan aktivitas flight test ke Kertajati pada Agustus 2026.

Pemindahan itu menjadi awal dari rencana lebih besar, yakni pembangunan fasilitas MRO hingga relokasi bertahap lini produksi pesawat ke kawasan tersebut. (gin)


Editor : Inilahkoran