(Sikap Kami) Tak Cukup Embarkasi Haji

KEPUTUSAN pemerintah menetapkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai embarkasi haji, patut disambut positif. Lebih dari itu, harusnya ini menjadi trigger bagi pengelola bandara untuk meningkatkan aktivitas penerbangan di kawasan tersebut.

(Sikap Kami) Tak Cukup Embarkasi Haji
Ilustrasi/Antara Foto

KEPUTUSAN pemerintah menetapkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai embarkasi haji, patut disambut positif. Lebih dari itu, harusnya ini menjadi trigger bagi pengelola bandara untuk meningkatkan aktivitas penerbangan di kawasan tersebut.

Menjadi embarkasi haji itu memang menjadi salah satu –dari banyak cita-cita lain—saat pembangunan BIJB Kertajati dimulai. Maklum, soal ini Jawa Barat memang tertinggal. Sementara banyak provinsi lain jamaahnya bisa terbang langsung dari bandara mereka, Jabar masih harus lewat Soekarno-Hatta.

Keinginan untuk itu, seperti pengakuan Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum, sudah lama. Hanya memang, menjadikan BIJB Kertajati sebagai embarkasi haji, tak semudah membalik telapak tangan. Ada persyaratan-persyaratan teknis dan administratif yang harus dipenuhi.

Setidaknya sampai penerbangan pertama Juni-Juli tahun ini, BIJB Kertajati masih punya kelemahan. Asrama haji di sekitar bandara masih dalam tahap rencana. Tahun ini, pemondokan awal masih dari Pondok Gede, Bekasi.

Tapi tak apa. Ini sudah satu kemajuan. Kebanggaan bagi Pemprov Jawa Barat, kenikmatan bagi calon jamaah haji Jawa Barat. Mereka, para calon jamaah, tentu akan lebih bangga bisa terbang ke Jeddah dari Kertajati.

Kita membayangkan betapa sibuknya BIJB Kertajati di musim haji mendatang. Pasalnya, Jawa Barat adalah provinsi dengan calon jamaah terbesar. Hampir 20% calon haji Indonesia, berasal dari Jabar. Tahun ini saja, Jabar dapat kuota 38.852 jamaah. Jika menggunakan pesawat Boeing 777 dengan 393 penumpang, maka akan ada 98 kelompok terbang.

Tetapi, sekali lagi, memberangkatkan calon haji dari bandara sendiri, hanyalah satu dari sekian sasaran mendirikan BIJB Kertajati. Lebih dari itu, bandara ini dibangun agar penerbangan reguler bisa lebih banyak, menghadirkan kemudahan bertransportasi, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat sekitar.

Ini yang sekarang belum terwujud. Alih-alih meningkatnya volume penerbangan, yang ada malah sejumlah penerbangan menarik diri dari Kertajati. Alasannya, tentu karena tingkat keterisian penumpang tak memenuhi standar.

Inilah yang kini menjadi tantangan terbesar PT BIJB. Tantangan juga bagi Pemprov Jabar untuk menghadirkan akses yang lebih gampang ke bandara. Tantangan bagi masyarakat Jabar untuk mencintai bandara sendiri. (*)


Editor : Bsafaat