Sikap Kami: Tantangan WJIS

WEST Java Investment Summit (WJIS) adalah karpet merah investasi menuju Jawa Barat. Selama ini, tak pernah mengecewakan. Tahun ini, targetnya lebih tinggi, tantangannya lebih berat.

Sikap Kami: Tantangan WJIS
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar West Java Investment Summit alias WJIS untuk menggaet investasi baru.

WEST Java Investment Summit (WJIS) adalah karpet merah investasi menuju Jawa Barat. Selama ini, tak pernah mengecewakan. Tahun ini, targetnya lebih tinggi, tantangannya lebih berat.

Seperti kita ketahui, dalam beberapa tahun terakhir, posisi Jawa Barat sebagai surga investasi di Indonesia, tiada terbantahkan. Jabar berhasil mengungguli DKI Jakarta, tempat di mana dana investor lebih banyak tertanam sebelumnya.

Tahun ini, sampai semester I, nilai investasi yang masuk sudah mencapai Rp83 triliun. Dalam hitungan versi Gubernur Jawa Barat, investasi sebesar itu bisa menciptakan 83 ribu lapangan kerja.

Itu baru lapangan kerja. Belum dampak gelinding bola ke sektor-sektor perekonomian lain. Bank Indonesia sendiri menghitung sumbangan investasi terhadap perekonomian Jabar mencapai 24,88%. Nomor dua setelah konsumsi. Positiflah pokoknya.

Karena itu, investasi harus terus dikejar. Jawa Barat punya cara khusus dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menggelar West Java Investment Summit (WJIS). Inilah karpet merah pertemuan Jabar dengan calon investor.

Selama ini, WJIS selalu berhasil menarik investor untuk menanamkan duitnya pada proyek-proyek yang disiapkan di Jawa Barat. Bisa jadi, karena kisah sukses itu, proyek yang ditawarkan, nilainya terus meningkat. Tahun lalu, misalnya, ditawarkan 31 proyek besar dengan nilai investasi Rp41,06 triliun.

Kali ini, angkanya lebih tinggi lagi. Ada 32 proyek yang ditawarkan. Nilainya Rp59,73 triliun. Proyek ketahanan pangan dan energi baru terbarukan dominan. Ada 10 proyek ketahanan pangan dan 17 proyek energi baru terbarukan.

Dua sektor itu kini memang menaik dan jadi perhatian dunia. Terutama di tengah ancaman krisis ekonomi yang bisa memicu krisis pangan. Pun program energi baru terbarukan yang lebih menarik bagi kalangan investor papan atas ketimbang sekadar mengeksplorasi energi fosil.

Hanya saja, memang tidak mudah untuk menggandeng investor hari-hari ini. Pasalnya, situasi ekonomi dunia belum juga membaik. Bahkan ada yang memperhitungkan menuju resesi. Investor pasti akan berhitung panjang.

Selain ancaman krisis pangan, krisis energi, situasi juga dipersulit dengan Perang Ukraina-Rusia yang belum juga berakhir. Perlu perhitungan sangat matang investor sebelum menanamkan modalnya.

Tapi, tak perlu berkecil hati. Tak perlu pesimistis. Bukankah dua tahun terakhir, saat dunia dihantam pandemi, WJIS tetap bisa memenuhi target-targetnya? (*)


Editor : Zulfirman