Siklon 93S Mengintai, BPBD Jabar Perkuat Kesiapsiagaan Daerah hingga Tingkat RT
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengambil langkah antisipatif menyusul rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kemunculan Siklon Tropis 93S yang berpotensi memicu cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) mengambil langkah antisipatif menyusul rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kemunculan Siklon Tropis 93S yang berpotensi memicu cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan.
Sebagai tindak lanjut, BPBD Jabar telah meneruskan informasi peringatan dini tersebut kepada seluruh BPBD kabupaten dan kota di Jawa Barat. Upaya ini dilakukan agar pemerintah daerah dapat melakukan langkah mitigasi sejak awal, baik dari aspek kesiapan personel, peralatan kebencanaan, maupun peningkatan kewaspadaan masyarakat.
"Memang tugas kita untuk provinsi yang disaminasikan peringatan ini, supaya mengantisipasi potensi-potensi bencana yang mungkin saja terjadi. ini kan sampai tanggal 25. Yang namanya potensi cuaca ekstrim ini, yang harus kita waspadai hujan lebatnya, utamanya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat," kata Pranata Humas BPBD Jabar, Hadi Rahmat yang dihubungi, Senin (22/12/2025).
Berdasarkan analisis kerawanan wilayah, BPBD Jabar mencatat kawasan selatan Jawa Barat yang didominasi perbukitan dan lembah memiliki potensi tinggi terhadap bencana longsor dan banjir bandang. Sementara itu, wilayah utara lebih rentan terhadap banjir, meski ancaman serupa juga tetap mengintai sejumlah daerah lain.
Selain ancaman daratan, BPBD Jabar juga menaruh perhatian khusus pada kawasan pesisir selatan yang berpotensi terdampak gelombang tinggi sebagaimana diprakirakan BMKG. Nelayan pun diimbau untuk menunda aktivitas melaut saat kondisi perairan tidak aman. Meski sebagian nelayan dinilai telah memahami risiko tersebut, penyampaian informasi resmi tetap diperlukan sebagai langkah pencegahan.
"Tentu ini harus terinformasikan ke mereka (nelayan), agar supaya kalau memang terjadi gelombang tinggi, tidak ada korban yang terdampak karena kejadian itu," ucapnya.
Distribusi informasi kebencanaan dilakukan secara berjenjang, dimulai dari BPBD provinsi ke BPBD kabupaten dan kota. Selanjutnya, peringatan tersebut diteruskan hingga ke aparat kewilayahan di tingkat kecamatan, kelurahan, bahkan RT dan RW agar masyarakat memperoleh informasi secara cepat dan merata.
Hadi menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memberikan respons optimal apabila terjadi bencana. Sinergi dengan berbagai unsur, termasuk relawan dan klaster logistik, dinilai menjadi kekuatan utama dalam mendukung penanganan kebencanaan di Jawa Barat.
"Terkait dengan ketersediaan anggaran memang dirasa kurang, cuma dukungan dari pihak anggota kelas logistik di Jawa Barat ini memang luar biasa, untuk mendukung penanganan bencana di Jawa Barat," ucapnya.
BPBD Jabar mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika cuaca ekstrem. Warga diminta memantau kondisi lingkungan sekitar serta segera melakukan evakuasi ke tempat aman apabila muncul tanda-tanda potensi bahaya.
"Biasanya kalau yang namanya evakuasi itu ke titik kumpul yang memang sudah disepakati, itu yang penting," ucapnya.
Editor : Ahmad Sayuti

