Sosok Srikandi Tangguh Pendiri Saung Pintar , Rina Susanti Tetap Berjuang Meski dalam Keterbatasan
Tak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi mulailah untuk menjadi luar biasa menjadi ungkapan yang tepat menggambarkan sosok Rina Susanti, pendiri Saung Pintar di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Tak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi mulailah untuk menjadi luar biasa menjadi ungkapan yang tepat menggambarkan sosok Rina Susanti, pendiri Saung Pintar di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Sebab, bagi srikandi tangguh seperti Rina keterbatasan sebagai penyandang disabilitas bukan halangan untuk membantu sesama. Hal ini pun menuai apresiasi dari berbagai pihak.
Salah satunya Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sandi Supyandi mengapresiasi sosok penyintas disabilitas Rina Susanti yang mendirikan Saung Pintar bagi penyandang disabilitas secara mandiri.
Digagas sejak 2014 silam, Saung Pintar yang didirikan Rina pun dihuni oleh 10 orang disabilitas dewasa dan 20 anak-anak.
Ketua Komisi 1 DPRD KBB, Sandi Supyandi mengatakan, semua orang yang normal seharusnya malu dengan apa yang sudah dilakukan Teh Rina.
"Saya kira kita patut malu dengan apa yang sudah dilakukan Teh Rina ini, beliau secara mandiri mendirikan kelompok belajar bagi disabilitas agar tumbuh kembang penyandang disabilitas berjalan dengan baik," ungkap Sandi belum lama ini.
Pasalnya, kegiatan belajar dan bermain yang telah berjalan selama ini terbukti mengangkat mental dan psikologis disabilitas bahwa tidak ada perbedaan dalam kesempatan memperoleh kehidupan layak.
"Saya dengar disabilitas binaan Teh Rina sudah produktif, ada yang bergerak di industri kreatif dan dunia kerja. Ini membuktikan bahwa pembinaan berhasil,"kata Sandi.
Oleh karena itu, apa yang telah dilakukan Rina Susanti membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah. Perlu adanya pembinaan konfrehensif agar disabilitas bukan hanya merasa percaya diri namun juga siap bersaing di dunia kerja.
"Saya dorong legal formal untuk lembaga ini agar bisa menyerap dana pemerintah, selain itu kedepan pembinaan harus dilakukan lintas OPD, seperti Dinsos, Disdik dan Disnaker seharusnya saling mengisi agar disabilitas binaan Teh Rina memiliki keahlianl dan mampu mengisi kuota lapangan kerja bagi disabilitas," bebernya.
Rina Susanti mengaku, dirinya berinisiatif mendirikan Saung Pintar ini tidak saja sebagai wahana untuk belajar, namun juga bermain bagi para penyandang disabilitas.
"Selain itu, Saung Pintar juga menjadi sarana belajar untuk menggugah rasa percaya diri para penyandang disabilitas dan menghapus stigma negatif masyarakat,"sambungnya.
Meski begitu, ungkap Rina, selama ini kelompok belajarnya tidak mendapat perhatian serius pemerintah. Operasional dan sarana Saung Pintar hanya mengandalkan donatur non pemerintah dan uang pribadinya.
"Sekarang ada 10 disabilitas yang mengikuti kegiatan disini dan 20 anak kurang mampu, sengaja berbaur sebagai bentuk pendidikan bahwa kita sama,"ujar dia.
Terbukti, seiring berjalannya waktu kini penyintas disabilitas binaannya telah tumbuh berkembang baik, psikologis dan kemampuan di tengah masyarakat telah kembali pulih.
"Kalau dulu mereka malu, tidak percaya diri dan enggan bergaul, sekarang sudah ada yang bekerja bahkan jadi konten kreator,"terangnya.
Rina berharap, sarana prasarana Saung Pintarnya segera diperbaiki, kondisinya kini makin memprihatinkan. Atap bocor, perpustakaan minim buku, hingga kebutuhan sehari-hari disabilitas terbilang kritis.
"Saung Pintar ini dibangun tahun 2014, sekarang ya mulai bocor-bocor, alat tulis dan buku bacaan juga sudah usang. Maklum biaya operasionalnya seadanya, karena mayoritas anak-anak disini bukan keluarga berada," ucapnya. ***
Editor : JakaPermana


