Survei IDM Strategic Tempatkan PDIP Partai Terkuat di Kota Bandung
Survei IDM Strategic menempatkan PDIP sebagai partai politik terkuat di Kota Bandung mengalahkan PKS dan Gerinda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Bandung,- Survei IDM Strategic menempatkan PDIP sebagai partai politik terkuat di Kota Bandung mengalahkan PKS dan Gerinda.
Kendati citra PDIP sempat tercoreng dengan aksi seorang kadernya, namun survei menemukan responden yang merupakan representatif warga Kota Bandung tetap memilih PDIP.
Dalam keterangannya, IDM Strategic mengungkapkan, terkait dengan kontestasi politik, survei menemukan PDIP tetap mendapatkan pilihan yang cukup tinggi di Kota Bandung.
Baca Juga: Survei IDM Strategic Ungkap Ketidakpuasan Masyarakat Terhadap Kinerja Pemkot Bandung
Hasil survei menunjukkan PDIP masih menjadi partai yang cukup kuat di Kota Bandung dengan persentase 13,06%, disusul PKS 11,07%, dan Gerindra 8,10%.
Masih kecilnya angka pilihan partai politik di Kota Bandung dua tahun sebelum kontestasi 2024 dipengaruhi oleh mayoritas responden yang belum mau menentukan pilihan saat ini.
Ditambah juga dengan temuan bahwa indeks kemantapan pilihan politik responden menunjukkan kemungkinan perubahan pilihan yang cukup tinggi pada pemilihan 2024.
Baca Juga: Hasil Survei Tempatkan Popularitas Atalia Praratya Kamil Ungguli Yana Mulyana
Partai politik yang memiliki kaderisasi baik seperti Golkar (indeks 3,19) dan PKS (2,98), serta partai massa seperti PDIP (2,86) memiliki indeks kemantapan pilihan yang lebih tinggi dibandingkan dengan parpol lain.
Angka responden yang belum menentukan pilihan berada di 30.08%. Sedangkan pilihan Golput berada di angka 9.29%.
Hal ini menjadikan kontestasi politik tahun 2024 di Kota Bandung masih cukup terbuka untuk dimenangkan oleh siapa pun.
Baca Juga: Persib dan Barito Diduga Terlibat Pengaturan Skor, Pengacara Papua Pieter Ell Siapkan Gugatan
Terkait dengan angka partisipasi, mayoritas responden (78,80%) menyatakan akan mengikuti agenda politik 2024 walaupun mayoritas dari responden (43,81%) mengaku belum mengetahui terkait dengan agenda politik tersebut.
Ini menunjukkan bahwa publik belum mendapatkan informasi yang cukup dan memadai tentang waktu penyelenggaraan pemilu dan pilkada Kota Bandung.
Oleh karena itu penyelenggara pemilu baik KPU dan Pemerintah Kota Bandung harus lebih aktif dan masif lagi dalam memberikan informasi seputar agenda politik di 2024.
Baca Juga: Kota Bogor dan KBRI Tokyo Siap Kerjasama Pembangunan Rumah Sakit
Dalam siarannya, IDM Strategic juga menemukan responden cukup memiliki penerimaan dan keterbukaan kepada pilihan baik dari klaster partai politik maupun non-partai politik.
Hal ini ditunjukkan dengan nama-nama dari dua klaster ini yang berada di peringkat lima besar baik popularitas maupun elektabilitas.
Membesarnya presentase pilihan terhadap nama-nama di klaster non-politik menunjukkan indikasi sementara ini adanya penurunan kepercayaan terhadap nama-nama yang beririsan dengan klaster partai politik.
Baca Juga: RESMI! Pertamax Dibanderol Rp12.500 per Liter, Berlaku Sesaat Lagi di 16 Provinsi Ini
Hal ini seharusnya memberikan ruang dan peluang kepada calon independen untuk dapat bersaing secara lebih kompetitif dengan calon dari partai politik pada kontestasi pilkada Kota Bandung 2024.
Indikasi penurunan kepercayaan tersebut sejalan dengan angka indeks kepuasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di Kota Bandung.
Survei pendahuluan ini dilakukan tiga bulan setelah meninggalnya Walikota Bandung Oded M. Danial.
Baca Juga: Resmi Naik! Ini Harga Terbaru Pertamax dan Pertalite per Jumat 1 April 2022
Waktu tiga bulan ini memberikan ruang terjadinya perubahan kontruksi pilihan politik publik dan hal ini cukup tergambarkan pada hasil survei.
Selain itu, survei menemukan popularitas dan elektabilitas nama-nama di survei pendahuluan ini belum bisa melampaui angka popularitas dan elektabilitas Almarhum Oded M. Danial sebagai figure incumbent di survei sebelumnya.
Ini menunjukan pasca meninggalnya Walikota Bandung, Oded M. Danial, popularitas dan elektabilitasnya belum terdistribusi maksimal kepada kandidat incumbent Pjs. Walikota Bandung, Yana Mulyana dan calon-calon dari PKS.
Baca Juga: Tolak Wacana Kekuasaan Presiden Tiga Periode, Aktivis 98 Bandung Galang Dukungan Grassroot
Survei menemukan figur kandidat yang memiliki latar belakang public figure dan wajahnya sering muncul di ruang publik memiliki angka dikenal publik (popularitas) lebih tinggi di banding dengan nama lainnya.
Survei menemukan ada empat nama yang memiliki angka popularitas cukup tinggi dari pilihan responden yaitu:
1. Selebriti Raffi Ahmad (67,84%).
2. Publik Figur istri Gubernur Jabar Atalia Praratya Kamil (65,26%).
3. Pjs Walikota Bandung politisi Partai Gerindra Yana Mulyana (59,90%) .
4. Politisi Partai Nasdem anggota DPR-RI Dapil Kota Bandung Muhammad Farhan
(50,62%).
Baca Juga: Hukum Ramadhan: Hati-hati Sholat Tarawih Memakai Mukena Seperti Ini, Begini Penjelasan Buya Yahya!
Di sisi elektabilitas, survei menemukan ada tiga kluster yang menjadi pilihan responden yaitu:
1. Cluster nama-nama yang beririsan dengan Partai Politik (37,84%).
2. Cluster nama-nama independen/non-partai politik (25,05%).
3. Cluster yang belum menentukan pilihan saat survei dilakukan (37,11%).
Dua nama populer yaitu politisi Nasdem Muhammad Farhan dan Pjs. Walikota Bandung sekaligus kader Partai Gerindra, Yana Mulyana, pada survei pendahuluan ini sementara memimpin dengan elektablitas lebih tinggi dibanding dengan nama-nama lainnya.
Baca Juga: Duel Tinju, Cuma 2 Ronde Azka Corbuzier kalahkan Vicky Prasetyo
Dalam simulasi pilihan menggunakan alat peraga, figur Muhammad Farhan mendapatkan suara 11,44% dan Yana Mulyana sebesar 10,62%. Berturut-turut dalam lima besar ada nama-nama di luar klaster partai politik yaitu Atalia Praratya Kamil (8,04%), Raffi Ahmad (5,88%) dan Budi Dalton (5,26%).
Akan tetapi jika pilihan hanya melibatkan nama-nama dari kader Partai Politik, nama Muhammad Farhan unggul dengan 15.00%, disusul Yana Mulyana (14,05%), politisi PDIP Ahmad Nugraha (3,65%), politisi Golkar Edwin Sanjaya (2,97%), disusul politisi PKS Haru Suandara (2,30%).
Survei dengan pilihan nama hanya dari kader Partai Politik menaikan angka responden yang belum menentukan pilihan atau tidak mau menjawab sebesar 51.49%.
Baca Juga: Jadi Sorotan, Ini 8 Potret Mempesona Nita Gunawan Yang Dituding Dekat Dengan Raffi Ahmad
Survei juga menemukan bahwa nama-nama kader PKS dalam survei ini belum mendapatkan angka popularitas dan elektabilitas mendekati apa yang pernah di dapatkan oleh almarhum Oded M Danial, sebagai representasi dari partai pemenang pemilu 2019 dan pilkada 2018 di Kota Bandung.
Kondisi seperti ini akan menjadi salah satu handicap dalam menghadapi kontestasi 2024, terlebih lagi dengan kondisi PKS sementara ini yang mengalami kegagalan dalam mengisi posisi Wakil Walikota Bandung sepeninggal Oded M. Danial dikarenakan tidak memenuhi ketentuan perundangan tentang syarat keterpenuhan waktu.
Pemunculan nama-nama populer dan figur publik yang bukan kader partai seperi Raffi Ahmad, Atalia Praratya Kamil dan Budi Dalton dalam survei pendahuluan ini dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana persepsi penerimaan publik kepada nama-nama populis di luar kader parpol.
Baca Juga: Persib vs Barito Putera Imbang, Abdul Aziz: Bukan Hasil yang Kita Harapkan
Survei menemukan, walaupun tingkat popularitas dan keterpilihan beberapa nama populer itu lebih tinggi dari kader parpol, akan tetapi tingkat penerimaan publik masih lebih tinggi diberikan kepada dua kader parpol yaitu Yana Mulyana (7/10) dan Muhammad Farhan (6/10).
Mereka memiliki nilai penerimaan lebih tinggi dibanding dengan Atalia Praratya Kamil (4/10), Raffi Ahmad (3/10), dan Budi Dalton (2/10).
Hal ini menunjukan responden masih melihat track record pengalaman sebagai salah satu alasan menentukan pilihan.
Baca Juga: Sinopsis In the Heart of the Sea, Tayang Malam Ini di Bioskop TransTV
Seluruh rangkaian survei ini diselenggarakan dengan biaya mandiri dari IDM Strategic.
Namanama yang muncul di dalam survei pendahuluan ini didapatkan dari penambangan data digital selama 1 tahun terakhir (Februari 2021 – Februari 2022) dan dikurasi dalam proses FGD saat pembuatan instrument survei.
Hasil dari survei pendahuluan ini akan menjadi pijakan awal bagi pelaksanaan survei lanjutan yang akan dilaksanakan oleh IDM Strategic di tengah tahun 2022.***
Editor : inilahkoran

