Tak Cuma Mural, Bendera Sepanjang 500 Meter Lengkapi Semarak HUT ke-81 RI
Semarak HUT ke-81 RI tak hanya diwarnai mural. Bendera Merah Putih sepanjang 500 meter turut menghiasi kawasan dan menambah kemeriahan perayaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Semarak menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia merona sepanjang tembok rumah, pagar, tiang lampu, hingga saluran drainase di Kampung Rancabali, Gang Karangsari, RW 04, Desa Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Yang membuatnya istimewa, seluruh karya warna-warni itu lahir murni dari gotong royong dan iuran warga tanpa sepeser pun anggaran pemerintah.
Mulai dari bendera Merah Putih yang membentang hampir 500 meter dari pintu masuk hingga ujung gang, gapura anyaman bambu dihiasi patung Semar dan Cepot, hingga lukisan tembok bertema nasionalisme, identitas Sunda, dan kecintaan pada Persib Bandung.
Semua itu menjadi bukti semangat kemerdekaan tak selalu harus menunggu bantuan dari atas. Tradisi ini telah berjalan sejak 2019, mengubah kawasan yang dulunya terkesan kumuh dan sempit menjadi kampung yang hidup, berwarna dan kini mulai dikenal orang jauh.
Tokoh pemuda setempat, Lutfi Pradana menjelaskan, setiap sudut kampung kini bercerita mulai dari lukisan Ir. Soekarno, Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hingga tokoh-tokoh budaya Jawa Barat.
“Seluruhnya murni swadaya masyarakat. Apresiasi juga kepada Pak RW04, semangatnya menular kepada kami pemuda," kata Lutfi, Kamis (13/8/2026).
Tanpa anggaran pemerintah, ungkap Lutfi, warga ingin menunjukkan kemandirian sekaligus memberi contoh bagi lingkungan lain di Bandung Barat.
“Kami berharap pemerintah hadir bukan hanya saat sudah viral. Berikan perhatian lebih minimal dukungan agar ide kreatif warga semakin berkembang," ucapnya.
Ketua RW 04, Yudi Hendrawan menuturkan, latar belakang semua ini sederhana, yakni keinginan mengubah citra gang yang padat, sempit dan terkesan kumuh menjadi tempat yang layak ditinggali.
Setiap tahun warga bergerak sendiri, dan tahun ini saja habis sekitar 30 kilogram cat dengan biaya lebih dari Rp2 juta, seluruhnya dari iuran dan sumbangan sukarela. Persiapannya pun lebih mendesak dibanding tahun-tahun sebelumnya, bukan karena kurang semangat, melainkan karena keterbatasan dana.
“Dulu kami mulai dua bulan lebih awal, kali ini baru mendekati Agustus bergerak hanya memperbarui bagian yang pudar dan menambah lukisan baru. Walaupun demikian, antusiasme warga tak pernah surut,” jelasnya.
"Ke depan, kami bermimpi Kampung Karangsari bisa tumbuh menjadi kampung tematik yang dikenal luas, sekaligus menjadi sumber kebanggaan warga sendiri, terlepas dari menjadi destinasi wisata atau tidak," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti


