Tak Kenal Lelah, Kepala Sekolah Ini Perjuangkan Pendidikan bagi Generasi Muda di Gununghalu Secara Mandiri

Sepul Jamil merupakan Kepala Sekolah di Yayasan Al Adadiyah yang berlokasi di Kampung Randukurung RT 02/ RW 09, Desa Wargasaluyu, Kecamatan Gununghalu yang mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan

Tak Kenal Lelah, Kepala Sekolah Ini Perjuangkan Pendidikan bagi Generasi Muda di Gununghalu Secara Mandiri

INILAHKORAN, Ngamprah - pendidikan merupakan salah satu elemen penting yang menjadi modal besar setiap orang untuk mengarungi luasnya samudera kehidupan. Hal itu pun yang kini menjadi prinsip yang dipegang teguh Saepul Jamil.

Sepul Jamil merupakan kepala sekolah di Yayasan Al Adadiyah yang berlokasi di Kampung Randukurung RT 02/ RW 09, Desa Wargasaluyu, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berawal dari kepeduliannya yang melihat minimnya atensi warga di sekitar tempat tinggalnya terhadap pentingnya pendidikan membuat dirinya berjuang keras memberikan pemahaman agar para generasi muda sadar akan pentingnya mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

"Jadi dari pemberian nama yayasan sendiri sebenarnya Yayasan pendidikan Islam Al Adadiyah. Alasannya, di kampung saya ini hampir 90 persen siswa tidak mengetahui tentang praktek wudhu, praktek salat dan lainnya," ungkap Saipul kepada wartawan, Senin 13 Februari 2023.

"Mereka menilai tidak perlu sekolah dan cukup SD hingga SMP saja," sambungnya.

Meski begitu, lanjut dia, dirinya tak patah semangat untuk memberikan pemahaman tentang pendidikan Islam di Al Adadiyah ini.

"Alhamdulillah, sejak 2016 satu persatu mereka mulai sadar betapa pentingnya pendidikan dan dari sekian yayasan, baru Al Adadiyah yang berjuang seorang diri untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat, khususnya generasi sekitar," ujar pria kelahiran tahun 1973 ini.

Tujuan adanya Yayasan Al Adadiyah ini, sebut dia, pihaknya ingin mengubah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada di kampungnya tersebut.

"Karena kebiasaan di kampung saya ini, anak sekolah baru keluar atau lulus SD atau SMP langsung kerja proyek atau nikah dini. Oleh karenanya, dengan adanya Al Adadiyah ini satu persatu masyarakat mulai sadar," bebernya.

Ia menyebut, ada beberapa jenjang pendidikan yang ada di Yayasan pendidikan Islam Al Adadiyah, antara lain Pondok Pesantren, Kelompok Bermain (Kober), Raudhatul Athfal (RA) dan Madrasah Aliyah (MA).

"Alhamdulillah bisa berjalan meski baru seadanya, tapi sudah bisa mendekati standar sekolah lainnya," imbuhnya.

Dalam penerapan pendidikan, sambung dia, pihak melakukan berbagai pembiasaan, mulai dari menghafal Al-Qur'an sebanyak 3 Juz, menghafal kitab kuning, serta pelaksanaan salat dhuha yang wajib dilaksanakan satu minggu sekali.

"Bahkan, ketika ada tetangga meninggal dunia, kita biasakan para siswa untuk bertakziah dan turut serta menyolatkan jenazahnya," ujarnya.

Ia mengakui, masih ada kendala dari sisi pembangunan, terutama untuk bangunan RA, mushola, lapangan, serta fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK).

"Untuk mengupayakan operasional dan bertahan di tengah kekurangan, sata harus memutar otak untuk menutupi kebutuhan, karena khususnya di MA baju seragam, pakaian olahraga dan batik diberikan secara gratis kepada para siswa," tuturnya.

"Secara hakikat semua itu karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang memberikan rizkinya," imbuhnya.

Ia pun tak memungkiri, berdirinya Al Adadiyah ini tak terlepas dari dukungan RT dan Pemerintah Desa.

"Sejauh ini bantuan yang kami terima ada dari desa, yaitu pengecoran jalan dengan lebar 80 centimeter dan panjang 150 meter," imbuhnya.

Namun, lanjut dia, saat ini pihaknya sangat membutuhkan ruang belajar untuk menunjang kegiatan belajar mengajar (KBM), mushola dan MCK.

Ia mengaku bakal terus berusaha, berdoa dan tidak akan berkecil hati meski telah puluhan kali berupaya dan berjuang untuk mengembangkan pendidikan meski belum bisa memetik hasilnya.

"Saya selalu berharap ada keajaiban dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala baik melalui pemerintah atau donatur yang siap memberikan sebagian rezekinya untuk pengembangan pendidikan," pungkasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti