Tampil Beda di Debat Publik Perdana Pilgub Jabar 2024, Ini Alasan Dedi Mulyadi...
Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 4 Dedi Mulyadi tampil beda di debat publik perdana Pilgub Jabar 2024, yang dilaksanakan di Grha Sanusi Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Senin 11 November 2024.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 4 Dedi Mulyadi tampil beda di debat publik perdana Pilgub Jabar 2024, yang dilaksanakan di Grha Sanusi Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Senin 11 November 2024.
Ikat kepala yang kerap dia pakai, tidak tampak kali ini. Potongan rambut klimis dan jambul, memberi corak baru dalam penampilan Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Soal penampilannya yang berbeda kali ini, KDM menceritakan tentang salah satu tokoh pewayangan yang tinggal di langit dan memilih turun ke bumi, serta tinggal di kampung bernama Tumaritis.
Sosok tersebut lanjut Dedi, memiliki kualifikasi yang sempurna sebagai seorang manusia, dimana lebih dikenal sebagai Semar.
Semar inilah, yang menginspirasi penampilannya dalam debat publik perdana Pilgub Jabar 2024.
"Dia manusia mulia, yang tidak pernah memperlihatkan kemuliaannya," kata Dedi.
Demikian pula mengenai pakaian serba putih yang digunakannya dan pakaian serba hitam, yang disandang oleh pasangannya, Erwan Setiawan.
"Putih lambang berserah diri pada Tuhan. Saya ingin menyampaikan depan publik, melalui pendekatan filosofi yang saya pakai hari ini," ucapnya.
Terkait debat, KDM mengatakan momen ini adalah sebagai bentuk ujian bagi calon pemimpin, akan kecepatan dan ketepatannya dalam berpikir untuk menyelesaikan masalah.
"Pemimpin itu harus kaya akan gagasan. debat bukan satu hal yang mudah, tapi ini adalah pembelajaran bagaimana kita menyampaikan kepada masyarajat secara baik program kita," ucapnya.
Terlepas dari itu, dalam momen ini KDM juga menyampaikan rasa belasungkawa atas musibah kecelakaan yang terjadi di Cipularang pada Senin sore.
Saat itu ungkap dia, dirinya berada di dalam tol yang sama sehingga sempat terjebak macet selama satu jam, dampaj dari insiden kecelakaan tersebut.
"Semoga keluarganya dikuatkan, yang meninggal diterima seluruh amal ibadahnya dan diampuni dosanya," tuturnya.
Kecelakaan ini sambung Dedi, juga menjadi pelajaran ke depan untuk membenahi transportasi darat, supaya lebih diperketat standardisasinya.
"Pemerintah harus betul-betul pemeriksaan secara otentik, seluruh kelengkapan kendaraan tidak hanya KIR," tandasnya.***
Editor : JakaPermana

