Tanah Bergerak di Garut: Desa Terkepung, Bangunan Rata Tanah!

Longsor menerjang Dusun Sindangsari, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, pada Selasa 11 November 2025 sekitar pukul 16.00 WIB.

Tanah Bergerak di Garut: Desa Terkepung, Bangunan Rata Tanah!
Ilustrasi

INILAHKORAN.ID - Di Dusun Sindangsari, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Garut, hujan deras pada Selasa (11/11/2025) sore, awalnya terasa biasa saja. Warga sudah akrab dengan curah hujan tinggi yang hampir setiap tahun membawa ancaman serupa.

Namun menjelang pukul 16.00 WIB, suara gemuruh dari lereng kaki gunung memecah aktivitas. Beberapa warga yang sedang berada di luar rumah mengenang bunyinya seperti “suara pohon tumbang bercampur batu yang digerus air”.

Tak lama kemudian, tanah yang selama ini dianggap kokoh pelan-pelan meluruh. Dari lereng setinggi 738 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 17 derajat, material gunung api tua—breksi vulkanik, lava andesit-basalt, dan tufa—meluncur turun. 

Tanah bergerak dari arah atas, menghantam apa pun yang berada di jalurnya. Satu rumah ambruk, rata dengan tanah. Tiga rumah lainnya rusak parah. Bahkan satu ruang kelas di SMK Riyadul Huda tak luput dari terjangan.

“Material ini tergolong mudah pecah dan meluruh ketika jenuh air. Kondisi tersebut diperparah oleh curah hujan tinggi yang terjadi beberapa waktu sebelum dan saat kejadian sehingga lereng tidak lagi mampu menahan tekanan air,” ujar Kepala Geologi Bandung, M Wafid, dalam keterangan resminya, Selasa (18/11/2025).

longsor kali ini bukan sekadar insiden tunggal. Singajaya sudah lama tercatat sebagai wilayah dengan potensi gerakan tanah tinggi. 

Kombinasi lereng curam, susunan batuan rapuh, dan hujan intens menciptakan kondisi yang hanya menunggu waktu hingga terjadi bencana. Pada November 2025, wilayah ini kembali masuk kategori risiko tinggi, sebuah peringatan yang sayangnya terbukti.

Bagi warga, dampaknya terasa seketika. Jalan penghubung desa tertutup total oleh material longsoran. Akses terputus, komunikasi terhambat, dan aktivitas harian mendadak mati. 

Meski tidak ada korban jiwa, rasa cemas menyelimuti penduduk sepanjang malam. Banyak keluarga memilih berjaga di luar rumah, mengawasi retakan yang kian melebar dan suara rembesan air yang tidak biasa.

Badan Geologi meminta warga tetap waspada terhadap longsor susulan. Tanda-tanda kecil perlu diperhatikan: warna mata air yang berubah keruh, rembesan yang membawa lumpur, hingga retakan tanah yang tiba-tiba muncul.

“Retakan yang muncul disarankan segera ditutup menggunakan tanah liat atau lempung yang dipadatkan agar air tidak terus meresap ke lapisan tanah,” ujar Wafid.

Di sisi lain, pemerintah daerah bersama BPBD diminta meningkatkan sosialisasi mitigasi gerakan tanah. Perbaikan struktur maupun pembersihan material pun dianjurkan hanya dilakukan saat cuaca benar-benar aman.

Di tengah kekhawatiran, warga Dusun Sindangsari tetap berusaha tenang. Mereka saling berbagi makanan, saling menjaga anak-anak, dan saling memastikan siapa pun yang tinggal di dekat lereng bergerak ke tempat yang lebih aman. 

Meski desa mereka sempat “terkepung”, semangat untuk bertahan tetap menyala—seperti lampu-lampu kecil yang terus menyala di malam yang basah, menunggu tanah kembali diam. ***


Editor : Gin gin T Ginulur