Tarian 24 Jam hingga Menari di Pemakaman

Tarian 24 Jam hingga Menari di Pemakaman
Para penari ciliik mempertontonkan aksinya di acara Car Free Day, Dago, Minggu (28/4/2019). (Agung Fitu Budiana)

INILAH, Bandung-Memperingati Hari Tari Sedunia 29 April, ribuan penari dari berbagai sanggar, menari di Kawasan Car Free Day Dago, Kota Bandung, Minggu (29/4/2019).

Ribuan penari dengan berbagai usia tersebut menarikan Tarian Ronggeng Geber, sambil membawa hihid (kipas dari anyaman bambu). mereka berasal dari berbagai sanggar di 18 Kota/Kabupaten Jawa Barat.

Gelaran tersebut merupakan inisiasi dari Masyarakat Seni Indonesia (Masri) yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, dan Kementerian Pariwisata RI.

Penggagas kegiatan dari Masri, Mas Nanu Muda mengatakan peringatan Hari Tari Sedunia di Bandung pada tahun ini, antusiasmenya sangat baik, banyak yang ingin berpartisipasi pada kegiatan tahun ini.

"Untuk tahun 2019 ini, Tarian Ronggeng Geber diikuti ribuan penari, pendaftran saat dibuka itu 2500 sampai 3000 penari, namun berkembang sampai 4000-an penari," katanya di Gedung Pusat Pengembangan Kebudayaan (PPK), Jalan Naripan, Kota Bandung, Minggu (29/4/2019).

Mas Nanu yang juga menjadi dewan pengarah peringatan hari tari sedunia menambahkan Peringatan Hari Tari Sedunia di Kota Bandung, selain Tarian Ronggeng Geber di CFD, di Gedung PPK juga digelar "Bandung Ayo Menari 24 Jam".

"Tarian Ronggeng Geber di CFD Dago merupakan pembukaannya, jadi peringatannya itu menari selama 24 jam yang dibuka di CFD. Ada sekitar 4000an yang ikut menari ronggeng geber," katanya.

Menurut Dia, sekitar 168 Sanggar dari 18 Kota/Kabupaten di Jawa Barat yang ikut meramaikan gelaran peringatan hari tari tersebut, setelah dari CFD, dilanjutkan dengan menari di Gedung PPK.

"Yang disini (Gedung PPK) kebanyakan anak-anak sampai remaja, usia SD sampai SMP yang termasuk dalam rangkaian kegiatan menari selama 24 jam, untuk yang dewasanya di Taman Braga sore menjelang malam," ucap Bah Nanu, panggilan akrabnya.

Selain Tarian Ronggeng Geber yang dijadikan pembukaan kegiatan, para penari lain juga menarikan berbagai tarian dari luar daerah Jawa Barat, dan tarian modern atau kontemporer.

"Tariannya tradisi, dan kontemporer, yang tradisi juga bukan hanya Jawa Barat saja, ada yang menarikan tarian dari Solo, Minang, bahkan Sulawesi," ucapnya.

Sementara itu, sejumlah pemuda dari komunitas Kelompok Anak Rakyat (Lokra), Sakola Rajat Iboe Inggit Garnasih, dan Komunitas New Castle, menggelar tarian di Komplek Pemakaman Ereveld Pandu.

Repertoar tarian yang diberi judul "Dans op het Kerkhof" di tempat tersebut, menunjukkan tarian yang mengambil ragam gerak tradisi tari sunda dan cirebon, serta tari kontemporer dan pencak silat yang dikolaborasikan.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Gatot Gunawan mengatakan banyak cara dalam memperingati hari tari ini, dari mulai pelatihan tari, pameran, penulisan artikel, malam seni tari, pertunjukan khusus dan pertunjukan tari di jalanan atau ruang publik.

"Ini merupakan peringatan keenam yang kami laksanakan terkait Hari Tari, kami mengambil setting tempat di pemakaman umum. Karena kami ingin memberi pengertian kepada masyarakat bahwa seni tari bukanlah seni yang eksklusif yang harus mengeluarkan biaya yang besar," katanya.

Menurut Gatot, menari di ruang publik yang jarang dijamah pelaku seni lainnya merupakan bentuk kemerdekaan berekspresi dalam menyalurkan sebuah pertunjukan tari, ada interaksi langsung yg dirasakan antara pelaku, penonton dan lingkungan sekitarnya.

"Sesuai dengan tema yang diangkat tahun ini Global Dance Celebration for Peace, kami menyelenggarakan peringatan Hari Tari Sedunia di pemakaman sebagai simbol tempat yang sakral untuk menuju kedamaian tersebut," ucapnya. (Agung Fitu Budiana)


Editor : Bsafaat